Banyak yang luput dari pandangan saya, terutama pada hal – hal atau orang – orang yang sering berada disekitar saya. Yah,inilah mungkin kesalahannya memandang sesuatu yang sudah biasa, sehingga seolah-olah semuanya tanpa makna atau dengan kata lain minim rasanya. Begitu pula yang terjadi pada istri saya, yang harus menanggung pola kebiasaan saya yang salah tapi teranggap benar menurut versi saya.
Baru beberapa hari lalu saya mencoba menikmati setiap gerak-gerik istri saya. Bukannya selama ini tidak memperhatikannya. Tetapi itu semua sebagaimana saya bilang sebelumnya, seperti sedikit luput dari pandangan karena saking terbiasanya.
Ada salah satu hal yang cukup menarik perhatian saya mengenai istri saya. Yaitu mengenai busana sehari-hari yang dipakainya. Bukan niatan saya untuk tidak mengekpos mengenai modisnya bila ia berbusana dalam pakaian kerja atau pakaian pestanya. Sebab jika bicara soal pakaian kerja dan pestanya pastilah ia akan memakai yang terbaik dan terbagus menurut versinya.Itu semua dipakainya demi mendampingi saya atau demi menjaga eksistensinya sebagai wanita pekerja.
Tetapi disaat saya mengamati versi lain dari busana sehari-hari istri saya. Ada semacam rasa bertanya-tanya dalam hati saya, mungkin juga dibenak para bapak-bapak lainnya. Mengapa para wanita sangat suka sekali memakai pakaian santainya yang jamak disebut dengan Daster. Yaitu sebuah pakaian tak resmi yang biasanya adalah berupa panduan baju panjang, atau baju pendek lengkap dengan celananya dan lebih menariknya motif yang sering dipakainya adalah motif dengan gambar batik , bunga-bunga, boneka-boneka atau motif lainnya yang terkesan sangat simpel dan tanpa makna bagi saya.
Hingga suatu saat saya bertanya kepada istri saya dan mendapatkan sebuah jawaban yang sederhana. ‘ Biar tidak ribet dan panas’ begitu kata istri saya dengan singkat dan padatnya. Sejujurnya saat istri saya memberikan jawaban yang sesederhana itu ada yang tidak puas dalam hati saya. Tidak puas karena belum bertemu apa makna sebenarnya mengenai arti sebuah pakaian santai bagi para wanita ini.
Disaat saya bengong dan bertanya menggunakan logika saya inilah, rasa saya bergerak kedalam merasuk lebih dalam memandang eksistensi busana ini. Nah kebetulan pula saat itu istri saya sedang mengulek sambel kesukaan saya. Tiba-tiba diujung kamar saya si kecil menangis sejadi-jadinya karena kaget dan terbangun dari tidur paginya hanya karena bunyi terompet penjual sayur yang cukup nyaring bunyinya. Baru saja kaki saya mau melangkah, dengan kesigapan dan kecepatan ekstra istri saya sudah sampai dan menggendong anak saya, persis seperti film action yang semalam saya tonton bersamanya.
Rupanya inilah makna dari pembicaraan istri saya yang saya dengan sebelumnya tadi. Terbayang betapa jika istri saya harus menggunakan busana yang tidak lebih simpel dari dasternya. Betapa ribet, panas, sesak dan perasaan ketidakyamanan lainnya bila ia harus berformal-formal ria. Sementara harus mengurus semua urusan, termasuk urusan gelas yang sangat sulit sekali saya temukan bila tanpa bantuanya.
Saya menjadi paham betapa bau bawang bercampur keringat, atau bahkan bau pipis anak saya dan bau-bau lainnya yang menyeruak dari baju sederhana itu. Bagi saya adalah sebuah tanda mengenai perjuangan tangguh para wanita-wanita. Meskipun awalnyapun saya kurang menyukai jika istri saya memakai pakaian santainya itu. Tetapi begitu saya mendapatkan makna mengenai kekuatan, kecepatan dan ketepatan supernya setelah memakai pakaian sederhana itu. Saya menjadi tahu betapa para wanita dan dasternya adalah suatu panduan yang unik, bersahaja, tetapi dengan kekuatan yang luar biasa.
13 Desember 2010
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
Minggu, 12 Desember 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar