Sabtu, 11 Desember 2010

PUAS dan BAHAGIA

Dihari libur seperti inilah saya atau bahkan beberapa orang berusaha mencari. Mencari ini seolah menjadi sebuah kegiatan yang sangat berarti dan wajib dilalui. Entah mencari barang-barang kesukaan, lagu kesayangan.makanan favorit atau hobi lainnya yang pasti memanjakan diri. Tetapi jika mau diamati lebih sederhana, sebenarnya saya atau bahkan orang-orang seperti ini sebenarnya bukan mencari itu semua.

Beberapa teman saya mengatakan bahwa “ritual” rutin mingguan seperti itu sebenarnya adalah sebuah upaya dalam mencari rasa yang bernama BAHAGIA. Layaknya ritual khusus, biasanya hal-hal seperti ini banyak pemicunya sebut saja salah satunya adalah bekerja. Jika mulai hari senin sampai jumat atau bahkan sabtu saya dan beberapa orang ini seperti menikmati pekerjaannya. Tetapi sejujurnya mungkin jumlah prosentasenya pun tidak lebih besar dari angka prosentase kenaikan saham-saham dibursa dan sisanya mungkin hanya berpura-pura dan terpaksa menikmatinya.

Buktinya dari kota sebesar Jakarta yang diklaim oleh pemerintahnya bahwa segalanya serba ada, tidaklah mampu membendung keinginan para penduduknya untuk bergerak keluar dari dalamnya, mungkin pula termasuk para petinggi yang berucap dan mengklaim itu semua. Para penduduk kota ini seolah berlomba dan berebut memenuhi sudut pinggiran kota lainnya.

Bagi saya yang juga merasakan itu semua, kata-kata BAHAGIA sebagaimana yang disampaikan teman saya tadi rasanya terlalu mulia untuk mewakili ritual itu. Saya bahkan merasakan kesumpekan yang luar biasa, keruwetan yang tidak lagi ada ujungnya, dan kepenatan yang berkali lipat rasanya hanya karena mengejar rasa BAHAGIA.

Merasa PUAS mungkin iya. Tetapi BERBAHAGIA itu hitungan yang lain rumus matematikanya. PUAS sudah bisa makan enak khas suatu daerah, sudah bisa menghirup udara segar atau sudah bisa bermain lumpur bersama anak-anak hanya saya rasakan tidak lebih dari awal datang sampai harus masuk kekendaraan dan meneruskan perjalanan pulangnya. Sisanya adalah rasa yang saya sebutkan sebelumnya.

Rasa ini pula yang pernah menghinggapi seorang sahabat sewaktu saya kuliah dulu. Begitu ingin ia memuaskan rasa penasaranya untuk lolos dan masuk sebuah perguruan tinggi ternama. Justru setelah ia lolos dan masuk ke universitas kebanggaannya itu, sahabat saya menjadi kehilangan semangat dari rasa penasarannya hanya karena tugas dan kuliah yang dijalaninya terasa lebih berat dan membebaninya. Dan Karena keadaan yang sangat dramatis itulah sahabat saya menciptakan sebuah rumus matematika yang rumit dan kreatif dalam kehidupannya. Bunyinya PUAS  BAHAGIA.

Saat itulah saya teringat seorang guru saya. Meskipun tampangnya seram, kumisnya menebal dan badanya pun tegap ditambah jarang sekali tertawa. Beliau menanamkan kepada saya sebuah pemikiran mulia. Rasa bahagia justru didapat tanpa kita mempersyaratkan apa-apa dan untuk memenuhi persyaratannya salah satunya adalah menjauhi dan memperkecil bahkan jika bisa menghilangkan rasa untuk terpuaskan dalam hal apa saja.


12 Desember 2010

Ruang Perenungan

Ardi Bangunjiwo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar