Kamis, 07 Agustus 2008

FILSAFAT AYAKAN

Pernahkan anda berfikir mangenai filsafat ayakan ?
Pada prinsipnya mengayak dalam website wiktionary adalah satu kata kerja adalam bahasa sunda yang berarti memisahkan antara sesuatu kasar dan yang lembut. Adapun dan hasil dari pengayakan tersebut biasanya dapat diukur dan dinyatakan dalam system science dengan satuan mesh yang menyatakan tingkatkehalusan / kelembutan dari hasil ayakan itu sendiri .
Jika dulu saya diminta tolong ibunda saya tercinta untuk membantu membuat kue, biasanya ibunda saya akan meminta saya untuk mengayak tepung terigu tentunya dengan ukuran kehalusan tertentu yang nantinya akan dimasukan dalam telur yang telah dikocok, dan dengan tangannya yang terampil tersebut beliau menyulap pencampuran tepung halus hasil ayakan, telur dan berbagai bahan lain tersebut menjadi kue yang enak dan lezat.
Sama halnya pada saat saya di minta tolong oleh ayahanda saya membantu “ menambal” dinding rumah saya yang sempat lobang-lobang termakan usia. Ayahanda saya selalu meminta untuk mengayak pasir-pasir yang ada hingga pada tingkat kehalusan tertentu untuk menghasilkan tekstur dinding yang sama dengan dinding yang tidak berlobang tadi. Alhasil setelah pasir diayak dan mendapatkan kehalusan tertentu maka setelah dicampur bersama-sama semen alhasil dinding rumah kami kembali mulus dan tidak berlobang lagi
Tetapi pernahkah kita berfikir terbalik tentang konsep ayakan ini ? Terlepas dari Analogi tepung dan pasir ?
Pernahkan anda meyaksikan seorang mengayak pasir mungkin didaerah kalimatan atau papua. Mereka ternyata menerapkan konsep ini secara terbalik.
Pasir-pasir disuatu daerah dikumpulkan kemudian diayak…tapi bukan pasir halusnya yang diambil justru butiran kasar yang kadang pula berbetuk bongkahan-bongkahan kasar yang disebut emas atau intan yang justru nilainya dan satuannya lebih besar dari hasil halusnya yaitu pasir.
Apa yang salah dengan analogi ayakan diatas ya? Saya rasa tidak ada yang salah dari filsafat ayakan bahwa mengayak tetap memisahkan sesuatu yang kasar dan yang lembut. Tetapi terkadang hasil akhirnya menjadi berbeda jika kita pandai mencermati tujuan dari pengayakan tersebut.
Semoga kita tidak salah dalam menerapkan filsafat ayakan ini, dan jika tuhan mengijinkan semoga kita dapatkan hasil ayakan yang kasar tetapi benilai lebih dari yang halus.

AMBISI DALAM ORGANISASI KOI

Posting saya kali ini adalah bentuk dari sebuah hasil pemahaman dan pemikiran hasil dari sebuah kegiatan pelatihan yang dilaksanakan oleh perusahaan tempat saya bekerja.
Permulaan pemikiran yang mencoba memecah dan mengkorelasikan suatu pandangan dalam retorika klasikal pengetahuan manajemen dengan keseimbangan dalam alam yang terjadi.
Didalam sesi pelatihan tersebut guru kami mengajarkan suatu kebijakan pemikiran yang mengkondisikan penalaran ilmiah dengan memasukan unsur analogi alam sebagai jembatan perumpamaan perloncatan batas tegas korelasi ilmiah dan alamiah.
Dalam pengajaran tersebut guru kami mengungkapan sebuah hubungan alamiah suatu kehidupan kelompok ikan koi dalam suatu kolam dengan aspek konsep ambisi dan konsep kebersamaan dalam suatu organisasi.
Kehidupan ikan koi yang pada saat itu kami saksikan secara langsung dari kolam sebuah hotel dengan prestise tinggi dengan aliran air deras serta kumpulan pualam membuat kami tertegun. Tenangnya air dan terlihatnya ikan-ikan koi yang indah tersebut sangat membius kami dalam rasa damai dan kagum.
Ketertegunan kami dikagetkan dengan dilemparkannya segenggam pellet yang dimasukan dalam kolam tersebut, karena tiba-tiba ikan-ikan yang indah beberapa saat lalu seperti hilang. Ketenangan dan absraktifitas dari rasa hening yang beberapa saat lalu kami alami terganggu.
Pada saat itulah baru kami sadari bahwa ternyata kumpulan koi yang tenang bisa menjadi kumpulan abraksi yang kacau, rusuh bahkan semrawut hanya dengan segenggam pellet. Pengkacauan sebuah kondisi dari skelompok koi tersebut adalah refleksi betapa makluk dalam tataran kontepelasi ambisi dapat terkacaukan dengan bau, rasa mungkin juga warna terhadap benda yang masuk dalam lingkungannya.
Bagaimana dengan refleksi manusia??

AWAL SEBUAH PERJALANAN

Bagaikan mengawali sebuah perjalanan, saya mencoba sedikit demi sedikit belajar untuk menaratifkan segala sesuatu yang terjadi dalam langkah-langkah saya. Sebagaimana seorang bayi, saya kembali untuk mempelajari dan memahami suatu bentuk baru.
Berharap rumah ilustrasi saya ini menjadi refleksi bagi saya sendiri dan menjadi sebuah awal cerita dan berbagi terutama bagi rekan, saudara dan semua
Awal refreksi kecil yang diharapkan menjadi sekumpulan besar refleksi-refleksi lain dari bentuk pengalaman, cerita, deskripsi atau hanya sebatas abtraksi dari suatu rangkaian langkah-langkah dalam kehidupan.
Harapan yang tinggal adalah semoga adanya sebuah usaha yang istiqomah dalam menjaga refleksi ini tetap hidup dan berguna bagi saya sendiri khususnya