“DILARANG MEMBUANG SAMPAH DISINI” . Begitu bunyi tulisan dengan warna merah yang terlihat disisi sebuah rumah dengan tembok yang cukup tinggi. Entah mengapa sepertinya tumpukan sampah ini bukannya malah terkurangi. Justru terlihat semakin hari sang sampah malah tidak terhenti. Lebih parah lagi sekarangpun sudah menimbulkan aroma yang tidak lagi wangi.
Memang bila kita bicara mengenai suatu hal yang dibenci pastilah akan menuntut pula kesadaran tinggi. Bukan hanya sebuah antipati. Karena antipati bukan merefleksikan sebuah kesadaran, melainkan sebuah luapan emosi.
Dasar memang manusia ciptaan yang sempurna. Sehingga apapun yang menjadi pemikiran dan maunya sering menjadi teka-teki. Tidak hanya susah ditebak. Bahkan sudah terang dan pasti ia tetap berusaha untuk menghindar jika perlu berlari.
Seperti halnya tulisan tadi. Entah akan dimaknai himbauan, marah atau caci maki, tetapi layaknya iklan di televisi. Ia justru memicu untuk mencoba dan menguji. Jika ingin dibandingkan dengan yang lebih besar lagi. Bukankah sudah banyak larangan yang dibuat oleh otorisasi negeri ini. Dari yang paling remeh sampai yang sifatnya komplek. Tetapi tetap saja banyak yang merasa belum terlindungi.
Layaknya peritiwa saat bangun pagi. Kesadaran itu sangat mudah datang dan pergi. Kecuali telah terpatri mati. Memahami kesadaran itu seperti halnya menguji pikiran sendiri. Jangankan meminta pikiran untuk berhenti. Justru dengan kata-kata intimidasi, provokasi dan larangan seperti tadi. Ia akan semakin menjadi untuk lebih kreatif bahkan cenderung melampaui.
Jika disandingkan dalam suatu perlombaan atau kompetisi. Sepertinya lebih mudah dan cepat juara untuk hal-hal yang mengintimidasi. Contoh yang paling sering saya hadapi adalah saat menyetir dijalan raya. Hanya karena orang lebih keras suara knalpotnya, karena ia lebih kencang lari motornya, atau lebih cantik yang diboncengnya. Tiba-tiba ada saja yang seperti memaksa saya untuk mengalahkannya. Padahal disaat yang sama juga ada suara yang bilang untuk membiarkan saja.
Memang sebuah intimidasi, provokasi atau sebuah larangan itu langsung memicu untuk direalisasi. Bukan karena sifatnya kata-kata yang sakti, tetapi justru lebih pada kepuasan yang sering mengiringi. Berbeda dengan sang Kesadaran diri yang hanya sebuah bahasa diam pada diri sendiri, Lebih lagi sifatnya yang jauh dari terpuaskan dan dipuji . Inilah mungkin yang membuat sebuah kesadaran diri banyak tak lagi berarti. Jadi Putuskan Saja Ingin intimidasi atau kata hati
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
21 Desember 2010
Rabu, 22 Desember 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar