“DILARANG MEMBUANG SAMPAH DISINI” . Begitu bunyi tulisan dengan warna merah yang terlihat disisi sebuah rumah dengan tembok yang cukup tinggi. Entah mengapa sepertinya tumpukan sampah ini bukannya malah terkurangi. Justru terlihat semakin hari sang sampah malah tidak terhenti. Lebih parah lagi sekarangpun sudah menimbulkan aroma yang tidak lagi wangi.
Memang bila kita bicara mengenai suatu hal yang dibenci pastilah akan menuntut pula kesadaran tinggi. Bukan hanya sebuah antipati. Karena antipati bukan merefleksikan sebuah kesadaran, melainkan sebuah luapan emosi.
Dasar memang manusia ciptaan yang sempurna. Sehingga apapun yang menjadi pemikiran dan maunya sering menjadi teka-teki. Tidak hanya susah ditebak. Bahkan sudah terang dan pasti ia tetap berusaha untuk menghindar jika perlu berlari.
Seperti halnya tulisan tadi. Entah akan dimaknai himbauan, marah atau caci maki, tetapi layaknya iklan di televisi. Ia justru memicu untuk mencoba dan menguji. Jika ingin dibandingkan dengan yang lebih besar lagi. Bukankah sudah banyak larangan yang dibuat oleh otorisasi negeri ini. Dari yang paling remeh sampai yang sifatnya komplek. Tetapi tetap saja banyak yang merasa belum terlindungi.
Layaknya peritiwa saat bangun pagi. Kesadaran itu sangat mudah datang dan pergi. Kecuali telah terpatri mati. Memahami kesadaran itu seperti halnya menguji pikiran sendiri. Jangankan meminta pikiran untuk berhenti. Justru dengan kata-kata intimidasi, provokasi dan larangan seperti tadi. Ia akan semakin menjadi untuk lebih kreatif bahkan cenderung melampaui.
Jika disandingkan dalam suatu perlombaan atau kompetisi. Sepertinya lebih mudah dan cepat juara untuk hal-hal yang mengintimidasi. Contoh yang paling sering saya hadapi adalah saat menyetir dijalan raya. Hanya karena orang lebih keras suara knalpotnya, karena ia lebih kencang lari motornya, atau lebih cantik yang diboncengnya. Tiba-tiba ada saja yang seperti memaksa saya untuk mengalahkannya. Padahal disaat yang sama juga ada suara yang bilang untuk membiarkan saja.
Memang sebuah intimidasi, provokasi atau sebuah larangan itu langsung memicu untuk direalisasi. Bukan karena sifatnya kata-kata yang sakti, tetapi justru lebih pada kepuasan yang sering mengiringi. Berbeda dengan sang Kesadaran diri yang hanya sebuah bahasa diam pada diri sendiri, Lebih lagi sifatnya yang jauh dari terpuaskan dan dipuji . Inilah mungkin yang membuat sebuah kesadaran diri banyak tak lagi berarti. Jadi Putuskan Saja Ingin intimidasi atau kata hati
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
21 Desember 2010
Rabu, 22 Desember 2010
Jumat, 17 Desember 2010
BALADA GETUK LINDRI
Lembut, putih, mulus dan yang pasti wangi. Disaat menikmati pun serasa mulut ini terkunci. Entah karena sudah dikuasai pikiran atau halusinasi. Tetapi setiap dicoba dihayati semakin sensasinya semakin menjadi-jadi. Mungkin karena campuran yang sudah sempurna sehingga kadang nyaris kekurangannya tak terasa lagi.
Sebuah karya cipta yang bersahaja. Hanya dengan bahan yang sederhana. Bahkan cenderung dipandang sebelah mata tetapi menghasilkan suatu yang luar biasa.Melihat proses terjadinya saja seperti melihat sebuah fenomena. Karena hanya mengunakan tidak lebih dari 10 bahan saja.
Menurut cerita yang membuatnya semua ini memiliki keterkaitan dengan jalan hidupnya. Karena prosesnya nyaris tidak ada yang sia-sia. Dipanaskan, dipukul, diuleni sampai akhirnya di cetak dan disajikan itulah katanya. Meskipun tidak mentereng walaupun sudah diberi nama, dipoles menarik serta dibungkus seindahnya . Namun banyak sekali yang menyukai dan mengidolakanya. Minimal oleh orang desa dan pinggiran seperti saya.
‘Kembali kemasa muda sewaktu sedang susah dirantau’ ucap teman saya saat kami berdua mencoba kembali mencicipinya. Mungkin tidak nyaman dipanaskan, dipukul dan diuleni. Tetapi setelah jadi sungguh enak sekali. Seperti keadaan kami sekarang ini.
Dengan kesederhaaan yang berasal dari ubi, gula, kelapa dan vanili. Makanan ini mengajarkan kepada kami mengenai semangat yang terus terpatri. Bahwa keadaan yang baik dan enak bukan hasil dari ongkang-ongkang kaki. Keadaan yang penuh dengan ruahnya rejeki bukan berarti tidak perlu dicari dan digali. Justru dengan melalui keadaan sebagaimana dialami sang Getuk Lindri. Semua yang kita nikmati seperti terasa jauh lebih berarti.
Mungkin jika sang ubi tidak dipanasi, dipukul hingga halus, lalu diuleni. Ia tidak lebih dari sebuah makanan biasa yang bahkan tidak istimewa. Tidak mungkin pula menjadi oleh-oleh dan dibawa kekota-kota lainnya. Begitupun dengan sahabat saya yang telah berjaya.
17 Desember 2010
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
Sebuah karya cipta yang bersahaja. Hanya dengan bahan yang sederhana. Bahkan cenderung dipandang sebelah mata tetapi menghasilkan suatu yang luar biasa.Melihat proses terjadinya saja seperti melihat sebuah fenomena. Karena hanya mengunakan tidak lebih dari 10 bahan saja.
Menurut cerita yang membuatnya semua ini memiliki keterkaitan dengan jalan hidupnya. Karena prosesnya nyaris tidak ada yang sia-sia. Dipanaskan, dipukul, diuleni sampai akhirnya di cetak dan disajikan itulah katanya. Meskipun tidak mentereng walaupun sudah diberi nama, dipoles menarik serta dibungkus seindahnya . Namun banyak sekali yang menyukai dan mengidolakanya. Minimal oleh orang desa dan pinggiran seperti saya.
‘Kembali kemasa muda sewaktu sedang susah dirantau’ ucap teman saya saat kami berdua mencoba kembali mencicipinya. Mungkin tidak nyaman dipanaskan, dipukul dan diuleni. Tetapi setelah jadi sungguh enak sekali. Seperti keadaan kami sekarang ini.
Dengan kesederhaaan yang berasal dari ubi, gula, kelapa dan vanili. Makanan ini mengajarkan kepada kami mengenai semangat yang terus terpatri. Bahwa keadaan yang baik dan enak bukan hasil dari ongkang-ongkang kaki. Keadaan yang penuh dengan ruahnya rejeki bukan berarti tidak perlu dicari dan digali. Justru dengan melalui keadaan sebagaimana dialami sang Getuk Lindri. Semua yang kita nikmati seperti terasa jauh lebih berarti.
Mungkin jika sang ubi tidak dipanasi, dipukul hingga halus, lalu diuleni. Ia tidak lebih dari sebuah makanan biasa yang bahkan tidak istimewa. Tidak mungkin pula menjadi oleh-oleh dan dibawa kekota-kota lainnya. Begitupun dengan sahabat saya yang telah berjaya.
17 Desember 2010
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
Selasa, 14 Desember 2010
MAAF BERANTAI
Mata baru terbuka Karena mentari juga baru menunjukan wajahnya. Tetapi dalam pagi buta seorang ibu yang berlari-lari sekencangnya. Ia bukan sengaja berlari untuk tujuan olah raga seperti lazimnya. Apalagi demi kepentingan dan alasan mengenai bentuk badan dan ukuran standar lingkar pinggang yang mungkin didapatkan berdasarkan obrolan dengan ibu-ibu lainnya.
Sang ibu sedang mengejar buah hatinya. Buah hati yang sebenarnya diharapkannya menurut dan berlaku patuh padanya. Terlihatnya seperti si buah hati ini sedang mengerjai ibunya. Tetapi entah mengapa ada perasaan bahwa ada yang salah paham dari keduanya.
Karena sudah berputar dan berlari dua kali lengkap dengan kehebohannya. Timbul kekuatiran saya jika anjing peliharaan tetangga akan menimbulakn kegaduhan berikutnya dengan gonggongan besarnya. Setelah pas posisinya didepan saya lalu saya bertanya . ‘ Bu ada apa?’. Jawaban sederhana dengan nafas terengah saya terima ‘ anak saya ndak mau sekolah’.
Demi menyelamatkan kedamaian pagi ini saya pun bertindak layaknya pahlawan pagi buta. Disaat si anak lewat didepan saya , badannya saya tarik sekencangnya sehingga masuk halaman rumah saya. Saking kencang larinya, jadi sewaktu masuk dia menabrak tanaman kesayangan istri saya.Ya sudah lah ini masalah berikutnya, saya selesaikan dulu saja masalah utamanya.
Sambil membantunya berdiri saya berkata ‘ sudah sembunyi saja dulu dipojok sana’ sambil saya menunjuk pojok rumah saya. Sewaktu ibunya lewat kembali saya berkata ‘ Anaknya sudah masuk rumah bu, coba lihat dulu’. Tanpa dikomando si ibu dalam kecepatan lari super tinggi itu mengerem tubuhnya dengan sedemikian lihainya sambil memandang saya ‘ Oya, makasih ya pak, biar saya lihat dirumah’. Ibu ini tidak sadar bahwa saya tidak pernah berkata anaknya sudah masuk kerumahnya, tetapi masuk dirumah saya. Tetapi demi menjadi jagoan dadakan apapun saya tempuh demi misi sempurna.
Setelah sepi dari riuhnya aksi kejar tadi. Saya menghampiri si anak yang tengah sembunyi sambil bertanya ‘kamu kenapa lari?’.
Dengan tetap terengah si anak berkata ‘ Saya belum mengerjakan PR saya, saya takut pergi sekolah’.
Dalam acara jongkok bersama itu saya bertanya’ kamu takut pak guru atau bu guru?’. Sambil menggelengkan kepalanya ia berkata ’tidak, saya hanya takut jika dipermalukan didepan teman-teman lainnya, karena biasaya jika tidak mengerjakan PR disuruh berdiri didepan kelas’.
Dengan sedikit tehnik bicara sehingga meyakinkannya untuk menuruti saran saya. Akhirnya ia beranjak pergi dengan wajah ceria. Sewaktu saya berangkat kerja, terlihat di kejauhan si anak itu sedang bersepeda menuju sekolahnya.
Saat pulang kerja istri saya tiba-tiba cerita. ‘Ada kiriman kue dari tetangga ucapan pesanya terimakasih atas bantuannya’. Tanpa berkomentar soal kue yang dibicarakannya, saya lirik bunga yang sempat kena tubuh tambun si anak tetangga yang sudah rapi kembali. Saya hanya berkata ‘ maafkan saya sudah membuat tanaman itu berubah posisinya’. Istri saya tersenyum dan berkata ‘ tidak apa, karena kamu telah membuat aku bangga’.
Rupanya si anak bercerita mengenai kata-kata yang saya sarankan padanya. Bukan kata-kata mantra, apalagi jenis kata mutiara dan motivasi yang membara. Yang saya sarankan hanyalah ‘ Ucapkan maaf pada ibumu, dan mintakan ibumu menulis surat kepada gurumu untuk meminta maaf atas kelalaianmu belum mengerjakan PRmu, serta ucapkan janji pada dirimu untuk tidak mengulangi hal ini lagi’.
Bagi para sahabat guru, maafkan saya yang menyarankan sang anak untuk meminta maaf pada anda semua. Tetapi harga diri sang anak adalah segalanya. Lebih penting jujur dari pada membiarkannya berperang dengan hatinya demi menyelesaikan PRnya dengan berbagi cara, bahkan mungkin dengan mencontek apalagi meminjam paksa.
14 Desember 2010
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
Sang ibu sedang mengejar buah hatinya. Buah hati yang sebenarnya diharapkannya menurut dan berlaku patuh padanya. Terlihatnya seperti si buah hati ini sedang mengerjai ibunya. Tetapi entah mengapa ada perasaan bahwa ada yang salah paham dari keduanya.
Karena sudah berputar dan berlari dua kali lengkap dengan kehebohannya. Timbul kekuatiran saya jika anjing peliharaan tetangga akan menimbulakn kegaduhan berikutnya dengan gonggongan besarnya. Setelah pas posisinya didepan saya lalu saya bertanya . ‘ Bu ada apa?’. Jawaban sederhana dengan nafas terengah saya terima ‘ anak saya ndak mau sekolah’.
Demi menyelamatkan kedamaian pagi ini saya pun bertindak layaknya pahlawan pagi buta. Disaat si anak lewat didepan saya , badannya saya tarik sekencangnya sehingga masuk halaman rumah saya. Saking kencang larinya, jadi sewaktu masuk dia menabrak tanaman kesayangan istri saya.Ya sudah lah ini masalah berikutnya, saya selesaikan dulu saja masalah utamanya.
Sambil membantunya berdiri saya berkata ‘ sudah sembunyi saja dulu dipojok sana’ sambil saya menunjuk pojok rumah saya. Sewaktu ibunya lewat kembali saya berkata ‘ Anaknya sudah masuk rumah bu, coba lihat dulu’. Tanpa dikomando si ibu dalam kecepatan lari super tinggi itu mengerem tubuhnya dengan sedemikian lihainya sambil memandang saya ‘ Oya, makasih ya pak, biar saya lihat dirumah’. Ibu ini tidak sadar bahwa saya tidak pernah berkata anaknya sudah masuk kerumahnya, tetapi masuk dirumah saya. Tetapi demi menjadi jagoan dadakan apapun saya tempuh demi misi sempurna.
Setelah sepi dari riuhnya aksi kejar tadi. Saya menghampiri si anak yang tengah sembunyi sambil bertanya ‘kamu kenapa lari?’.
Dengan tetap terengah si anak berkata ‘ Saya belum mengerjakan PR saya, saya takut pergi sekolah’.
Dalam acara jongkok bersama itu saya bertanya’ kamu takut pak guru atau bu guru?’. Sambil menggelengkan kepalanya ia berkata ’tidak, saya hanya takut jika dipermalukan didepan teman-teman lainnya, karena biasaya jika tidak mengerjakan PR disuruh berdiri didepan kelas’.
Dengan sedikit tehnik bicara sehingga meyakinkannya untuk menuruti saran saya. Akhirnya ia beranjak pergi dengan wajah ceria. Sewaktu saya berangkat kerja, terlihat di kejauhan si anak itu sedang bersepeda menuju sekolahnya.
Saat pulang kerja istri saya tiba-tiba cerita. ‘Ada kiriman kue dari tetangga ucapan pesanya terimakasih atas bantuannya’. Tanpa berkomentar soal kue yang dibicarakannya, saya lirik bunga yang sempat kena tubuh tambun si anak tetangga yang sudah rapi kembali. Saya hanya berkata ‘ maafkan saya sudah membuat tanaman itu berubah posisinya’. Istri saya tersenyum dan berkata ‘ tidak apa, karena kamu telah membuat aku bangga’.
Rupanya si anak bercerita mengenai kata-kata yang saya sarankan padanya. Bukan kata-kata mantra, apalagi jenis kata mutiara dan motivasi yang membara. Yang saya sarankan hanyalah ‘ Ucapkan maaf pada ibumu, dan mintakan ibumu menulis surat kepada gurumu untuk meminta maaf atas kelalaianmu belum mengerjakan PRmu, serta ucapkan janji pada dirimu untuk tidak mengulangi hal ini lagi’.
Bagi para sahabat guru, maafkan saya yang menyarankan sang anak untuk meminta maaf pada anda semua. Tetapi harga diri sang anak adalah segalanya. Lebih penting jujur dari pada membiarkannya berperang dengan hatinya demi menyelesaikan PRnya dengan berbagi cara, bahkan mungkin dengan mencontek apalagi meminjam paksa.
14 Desember 2010
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
Minggu, 12 Desember 2010
WANITA dan BAJU KEBESARANNYA
Banyak yang luput dari pandangan saya, terutama pada hal – hal atau orang – orang yang sering berada disekitar saya. Yah,inilah mungkin kesalahannya memandang sesuatu yang sudah biasa, sehingga seolah-olah semuanya tanpa makna atau dengan kata lain minim rasanya. Begitu pula yang terjadi pada istri saya, yang harus menanggung pola kebiasaan saya yang salah tapi teranggap benar menurut versi saya.
Baru beberapa hari lalu saya mencoba menikmati setiap gerak-gerik istri saya. Bukannya selama ini tidak memperhatikannya. Tetapi itu semua sebagaimana saya bilang sebelumnya, seperti sedikit luput dari pandangan karena saking terbiasanya.
Ada salah satu hal yang cukup menarik perhatian saya mengenai istri saya. Yaitu mengenai busana sehari-hari yang dipakainya. Bukan niatan saya untuk tidak mengekpos mengenai modisnya bila ia berbusana dalam pakaian kerja atau pakaian pestanya. Sebab jika bicara soal pakaian kerja dan pestanya pastilah ia akan memakai yang terbaik dan terbagus menurut versinya.Itu semua dipakainya demi mendampingi saya atau demi menjaga eksistensinya sebagai wanita pekerja.
Tetapi disaat saya mengamati versi lain dari busana sehari-hari istri saya. Ada semacam rasa bertanya-tanya dalam hati saya, mungkin juga dibenak para bapak-bapak lainnya. Mengapa para wanita sangat suka sekali memakai pakaian santainya yang jamak disebut dengan Daster. Yaitu sebuah pakaian tak resmi yang biasanya adalah berupa panduan baju panjang, atau baju pendek lengkap dengan celananya dan lebih menariknya motif yang sering dipakainya adalah motif dengan gambar batik , bunga-bunga, boneka-boneka atau motif lainnya yang terkesan sangat simpel dan tanpa makna bagi saya.
Hingga suatu saat saya bertanya kepada istri saya dan mendapatkan sebuah jawaban yang sederhana. ‘ Biar tidak ribet dan panas’ begitu kata istri saya dengan singkat dan padatnya. Sejujurnya saat istri saya memberikan jawaban yang sesederhana itu ada yang tidak puas dalam hati saya. Tidak puas karena belum bertemu apa makna sebenarnya mengenai arti sebuah pakaian santai bagi para wanita ini.
Disaat saya bengong dan bertanya menggunakan logika saya inilah, rasa saya bergerak kedalam merasuk lebih dalam memandang eksistensi busana ini. Nah kebetulan pula saat itu istri saya sedang mengulek sambel kesukaan saya. Tiba-tiba diujung kamar saya si kecil menangis sejadi-jadinya karena kaget dan terbangun dari tidur paginya hanya karena bunyi terompet penjual sayur yang cukup nyaring bunyinya. Baru saja kaki saya mau melangkah, dengan kesigapan dan kecepatan ekstra istri saya sudah sampai dan menggendong anak saya, persis seperti film action yang semalam saya tonton bersamanya.
Rupanya inilah makna dari pembicaraan istri saya yang saya dengan sebelumnya tadi. Terbayang betapa jika istri saya harus menggunakan busana yang tidak lebih simpel dari dasternya. Betapa ribet, panas, sesak dan perasaan ketidakyamanan lainnya bila ia harus berformal-formal ria. Sementara harus mengurus semua urusan, termasuk urusan gelas yang sangat sulit sekali saya temukan bila tanpa bantuanya.
Saya menjadi paham betapa bau bawang bercampur keringat, atau bahkan bau pipis anak saya dan bau-bau lainnya yang menyeruak dari baju sederhana itu. Bagi saya adalah sebuah tanda mengenai perjuangan tangguh para wanita-wanita. Meskipun awalnyapun saya kurang menyukai jika istri saya memakai pakaian santainya itu. Tetapi begitu saya mendapatkan makna mengenai kekuatan, kecepatan dan ketepatan supernya setelah memakai pakaian sederhana itu. Saya menjadi tahu betapa para wanita dan dasternya adalah suatu panduan yang unik, bersahaja, tetapi dengan kekuatan yang luar biasa.
13 Desember 2010
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
Baru beberapa hari lalu saya mencoba menikmati setiap gerak-gerik istri saya. Bukannya selama ini tidak memperhatikannya. Tetapi itu semua sebagaimana saya bilang sebelumnya, seperti sedikit luput dari pandangan karena saking terbiasanya.
Ada salah satu hal yang cukup menarik perhatian saya mengenai istri saya. Yaitu mengenai busana sehari-hari yang dipakainya. Bukan niatan saya untuk tidak mengekpos mengenai modisnya bila ia berbusana dalam pakaian kerja atau pakaian pestanya. Sebab jika bicara soal pakaian kerja dan pestanya pastilah ia akan memakai yang terbaik dan terbagus menurut versinya.Itu semua dipakainya demi mendampingi saya atau demi menjaga eksistensinya sebagai wanita pekerja.
Tetapi disaat saya mengamati versi lain dari busana sehari-hari istri saya. Ada semacam rasa bertanya-tanya dalam hati saya, mungkin juga dibenak para bapak-bapak lainnya. Mengapa para wanita sangat suka sekali memakai pakaian santainya yang jamak disebut dengan Daster. Yaitu sebuah pakaian tak resmi yang biasanya adalah berupa panduan baju panjang, atau baju pendek lengkap dengan celananya dan lebih menariknya motif yang sering dipakainya adalah motif dengan gambar batik , bunga-bunga, boneka-boneka atau motif lainnya yang terkesan sangat simpel dan tanpa makna bagi saya.
Hingga suatu saat saya bertanya kepada istri saya dan mendapatkan sebuah jawaban yang sederhana. ‘ Biar tidak ribet dan panas’ begitu kata istri saya dengan singkat dan padatnya. Sejujurnya saat istri saya memberikan jawaban yang sesederhana itu ada yang tidak puas dalam hati saya. Tidak puas karena belum bertemu apa makna sebenarnya mengenai arti sebuah pakaian santai bagi para wanita ini.
Disaat saya bengong dan bertanya menggunakan logika saya inilah, rasa saya bergerak kedalam merasuk lebih dalam memandang eksistensi busana ini. Nah kebetulan pula saat itu istri saya sedang mengulek sambel kesukaan saya. Tiba-tiba diujung kamar saya si kecil menangis sejadi-jadinya karena kaget dan terbangun dari tidur paginya hanya karena bunyi terompet penjual sayur yang cukup nyaring bunyinya. Baru saja kaki saya mau melangkah, dengan kesigapan dan kecepatan ekstra istri saya sudah sampai dan menggendong anak saya, persis seperti film action yang semalam saya tonton bersamanya.
Rupanya inilah makna dari pembicaraan istri saya yang saya dengan sebelumnya tadi. Terbayang betapa jika istri saya harus menggunakan busana yang tidak lebih simpel dari dasternya. Betapa ribet, panas, sesak dan perasaan ketidakyamanan lainnya bila ia harus berformal-formal ria. Sementara harus mengurus semua urusan, termasuk urusan gelas yang sangat sulit sekali saya temukan bila tanpa bantuanya.
Saya menjadi paham betapa bau bawang bercampur keringat, atau bahkan bau pipis anak saya dan bau-bau lainnya yang menyeruak dari baju sederhana itu. Bagi saya adalah sebuah tanda mengenai perjuangan tangguh para wanita-wanita. Meskipun awalnyapun saya kurang menyukai jika istri saya memakai pakaian santainya itu. Tetapi begitu saya mendapatkan makna mengenai kekuatan, kecepatan dan ketepatan supernya setelah memakai pakaian sederhana itu. Saya menjadi tahu betapa para wanita dan dasternya adalah suatu panduan yang unik, bersahaja, tetapi dengan kekuatan yang luar biasa.
13 Desember 2010
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
Sabtu, 11 Desember 2010
PUAS dan BAHAGIA
Dihari libur seperti inilah saya atau bahkan beberapa orang berusaha mencari. Mencari ini seolah menjadi sebuah kegiatan yang sangat berarti dan wajib dilalui. Entah mencari barang-barang kesukaan, lagu kesayangan.makanan favorit atau hobi lainnya yang pasti memanjakan diri. Tetapi jika mau diamati lebih sederhana, sebenarnya saya atau bahkan orang-orang seperti ini sebenarnya bukan mencari itu semua.
Beberapa teman saya mengatakan bahwa “ritual” rutin mingguan seperti itu sebenarnya adalah sebuah upaya dalam mencari rasa yang bernama BAHAGIA. Layaknya ritual khusus, biasanya hal-hal seperti ini banyak pemicunya sebut saja salah satunya adalah bekerja. Jika mulai hari senin sampai jumat atau bahkan sabtu saya dan beberapa orang ini seperti menikmati pekerjaannya. Tetapi sejujurnya mungkin jumlah prosentasenya pun tidak lebih besar dari angka prosentase kenaikan saham-saham dibursa dan sisanya mungkin hanya berpura-pura dan terpaksa menikmatinya.
Buktinya dari kota sebesar Jakarta yang diklaim oleh pemerintahnya bahwa segalanya serba ada, tidaklah mampu membendung keinginan para penduduknya untuk bergerak keluar dari dalamnya, mungkin pula termasuk para petinggi yang berucap dan mengklaim itu semua. Para penduduk kota ini seolah berlomba dan berebut memenuhi sudut pinggiran kota lainnya.
Bagi saya yang juga merasakan itu semua, kata-kata BAHAGIA sebagaimana yang disampaikan teman saya tadi rasanya terlalu mulia untuk mewakili ritual itu. Saya bahkan merasakan kesumpekan yang luar biasa, keruwetan yang tidak lagi ada ujungnya, dan kepenatan yang berkali lipat rasanya hanya karena mengejar rasa BAHAGIA.
Merasa PUAS mungkin iya. Tetapi BERBAHAGIA itu hitungan yang lain rumus matematikanya. PUAS sudah bisa makan enak khas suatu daerah, sudah bisa menghirup udara segar atau sudah bisa bermain lumpur bersama anak-anak hanya saya rasakan tidak lebih dari awal datang sampai harus masuk kekendaraan dan meneruskan perjalanan pulangnya. Sisanya adalah rasa yang saya sebutkan sebelumnya.
Rasa ini pula yang pernah menghinggapi seorang sahabat sewaktu saya kuliah dulu. Begitu ingin ia memuaskan rasa penasaranya untuk lolos dan masuk sebuah perguruan tinggi ternama. Justru setelah ia lolos dan masuk ke universitas kebanggaannya itu, sahabat saya menjadi kehilangan semangat dari rasa penasarannya hanya karena tugas dan kuliah yang dijalaninya terasa lebih berat dan membebaninya. Dan Karena keadaan yang sangat dramatis itulah sahabat saya menciptakan sebuah rumus matematika yang rumit dan kreatif dalam kehidupannya. Bunyinya PUAS BAHAGIA.
Saat itulah saya teringat seorang guru saya. Meskipun tampangnya seram, kumisnya menebal dan badanya pun tegap ditambah jarang sekali tertawa. Beliau menanamkan kepada saya sebuah pemikiran mulia. Rasa bahagia justru didapat tanpa kita mempersyaratkan apa-apa dan untuk memenuhi persyaratannya salah satunya adalah menjauhi dan memperkecil bahkan jika bisa menghilangkan rasa untuk terpuaskan dalam hal apa saja.
12 Desember 2010
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
Beberapa teman saya mengatakan bahwa “ritual” rutin mingguan seperti itu sebenarnya adalah sebuah upaya dalam mencari rasa yang bernama BAHAGIA. Layaknya ritual khusus, biasanya hal-hal seperti ini banyak pemicunya sebut saja salah satunya adalah bekerja. Jika mulai hari senin sampai jumat atau bahkan sabtu saya dan beberapa orang ini seperti menikmati pekerjaannya. Tetapi sejujurnya mungkin jumlah prosentasenya pun tidak lebih besar dari angka prosentase kenaikan saham-saham dibursa dan sisanya mungkin hanya berpura-pura dan terpaksa menikmatinya.
Buktinya dari kota sebesar Jakarta yang diklaim oleh pemerintahnya bahwa segalanya serba ada, tidaklah mampu membendung keinginan para penduduknya untuk bergerak keluar dari dalamnya, mungkin pula termasuk para petinggi yang berucap dan mengklaim itu semua. Para penduduk kota ini seolah berlomba dan berebut memenuhi sudut pinggiran kota lainnya.
Bagi saya yang juga merasakan itu semua, kata-kata BAHAGIA sebagaimana yang disampaikan teman saya tadi rasanya terlalu mulia untuk mewakili ritual itu. Saya bahkan merasakan kesumpekan yang luar biasa, keruwetan yang tidak lagi ada ujungnya, dan kepenatan yang berkali lipat rasanya hanya karena mengejar rasa BAHAGIA.
Merasa PUAS mungkin iya. Tetapi BERBAHAGIA itu hitungan yang lain rumus matematikanya. PUAS sudah bisa makan enak khas suatu daerah, sudah bisa menghirup udara segar atau sudah bisa bermain lumpur bersama anak-anak hanya saya rasakan tidak lebih dari awal datang sampai harus masuk kekendaraan dan meneruskan perjalanan pulangnya. Sisanya adalah rasa yang saya sebutkan sebelumnya.
Rasa ini pula yang pernah menghinggapi seorang sahabat sewaktu saya kuliah dulu. Begitu ingin ia memuaskan rasa penasaranya untuk lolos dan masuk sebuah perguruan tinggi ternama. Justru setelah ia lolos dan masuk ke universitas kebanggaannya itu, sahabat saya menjadi kehilangan semangat dari rasa penasarannya hanya karena tugas dan kuliah yang dijalaninya terasa lebih berat dan membebaninya. Dan Karena keadaan yang sangat dramatis itulah sahabat saya menciptakan sebuah rumus matematika yang rumit dan kreatif dalam kehidupannya. Bunyinya PUAS BAHAGIA.
Saat itulah saya teringat seorang guru saya. Meskipun tampangnya seram, kumisnya menebal dan badanya pun tegap ditambah jarang sekali tertawa. Beliau menanamkan kepada saya sebuah pemikiran mulia. Rasa bahagia justru didapat tanpa kita mempersyaratkan apa-apa dan untuk memenuhi persyaratannya salah satunya adalah menjauhi dan memperkecil bahkan jika bisa menghilangkan rasa untuk terpuaskan dalam hal apa saja.
12 Desember 2010
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
Jumat, 10 Desember 2010
ISTRI
Saat dahulu anak pertama saya usianya satu setengah tahun dan belum bisa bicara. Saya bertanya pada bundanya dengan sedikit sinis “Belum bunda ajarikah dia bicara?”. Saat anak saya yang kedua mengalami hal yang sama lagi. Istri saya harus rela menerima pertanyaan serupa yang tak bermutu itu kembali.
Sewaktu setahap anak pertama mulai belajar mengucap satu-dua buah kata. Saya berucap setengah curiga padanya “Apa hanya itu suku kata di dunia ini?”. Begitu pula nasib anak kedua saya yang tak jauh beda. Hanya saja kali ini saya coba menyantunkan sedikit ucapan-ucapan saya meskipun kadar curiga didalamnya tidak terkurangi.
Dan ketika tiba saat kakak mulai belajar tentang huruf dan angka, sedangkan sang adik “mengekor” apa yang diucapkan kakaknya. Saya hanya berkomentar sederhana. Lebih parahnya lagi, seiring meningkatnya kecerdasan sang adik dalam memahami apa yang diucapkannya dalam rupa bahasa lainnya berupa tulisan tangan. Saya hanya bilang “Ah…..anak segitu sudah biasa dan memang sudah seharusnya, anak-anak kawanku yang lain juga sudah bisa”.
Hingga suatu waktu, kedua anak saya menghampiri saya yang sedang asik didepan TV dan berkata “ Yah, ajari kami dong rumus Alogaritma dan Grammar bahasa Inggris, karena kami sudah bertanya pada bunda dan bunda belum tahu jawabannya“.
Tersulut emosi dan harga diri saya hanya karena pertanyaan kedua anak saya, sehingga tanpa sadar saya sambar buku yang dibawa kakaknya. Disaat melihat catatan dibukunya itulah lidah saya kelu, sambil kembali memandang film yang sedang seru. Jikalau ada yang bertanya saat itu tentang pikiran saya, pastilah saya akan jawab, aku juga tidak paham apa arti pertanyaan dibuku anakku.
Seiring dengan mulai terasa merah padam dimuka dan mual sudah merasuk perut. Saat itulah datang istri saya dengan langkah bijaksana sambil berkata :” Kakak-Adek ayah sedang istirahat, kita diskusikan bersama ya soal logaritma dan grammar kalian, kebetulan ibu sudah telp ibu guru untuk minta bantuan datang kerumah”
Legalah pikiran saya. Loloslah kembali nafas saya yang sesak sebelumnya. Kemudian bangkitlah kesadaran saya. Disaat harga diri saya akan jatuh ketitik lobang yang terdalam jika tidak bisa menjawab pertanyaan anak-anak saya. Datang pahlawan penyelamat yang penuh rasa halus dan bijaksana itu. Dia adalah istri saya.
Betapa ia tidak dendam pada saya. Betapa ia selalu siap membantu dan mendukung saya. Meskipun saya selalu meragukannya. Inilah rasa keheranan dan rasa hormat yang dalam terhadap dedikasinya.
11 Desember 2010
Ruang Perenungan
Ardi Bangujiwo
Sewaktu setahap anak pertama mulai belajar mengucap satu-dua buah kata. Saya berucap setengah curiga padanya “Apa hanya itu suku kata di dunia ini?”. Begitu pula nasib anak kedua saya yang tak jauh beda. Hanya saja kali ini saya coba menyantunkan sedikit ucapan-ucapan saya meskipun kadar curiga didalamnya tidak terkurangi.
Dan ketika tiba saat kakak mulai belajar tentang huruf dan angka, sedangkan sang adik “mengekor” apa yang diucapkan kakaknya. Saya hanya berkomentar sederhana. Lebih parahnya lagi, seiring meningkatnya kecerdasan sang adik dalam memahami apa yang diucapkannya dalam rupa bahasa lainnya berupa tulisan tangan. Saya hanya bilang “Ah…..anak segitu sudah biasa dan memang sudah seharusnya, anak-anak kawanku yang lain juga sudah bisa”.
Hingga suatu waktu, kedua anak saya menghampiri saya yang sedang asik didepan TV dan berkata “ Yah, ajari kami dong rumus Alogaritma dan Grammar bahasa Inggris, karena kami sudah bertanya pada bunda dan bunda belum tahu jawabannya“.
Tersulut emosi dan harga diri saya hanya karena pertanyaan kedua anak saya, sehingga tanpa sadar saya sambar buku yang dibawa kakaknya. Disaat melihat catatan dibukunya itulah lidah saya kelu, sambil kembali memandang film yang sedang seru. Jikalau ada yang bertanya saat itu tentang pikiran saya, pastilah saya akan jawab, aku juga tidak paham apa arti pertanyaan dibuku anakku.
Seiring dengan mulai terasa merah padam dimuka dan mual sudah merasuk perut. Saat itulah datang istri saya dengan langkah bijaksana sambil berkata :” Kakak-Adek ayah sedang istirahat, kita diskusikan bersama ya soal logaritma dan grammar kalian, kebetulan ibu sudah telp ibu guru untuk minta bantuan datang kerumah”
Legalah pikiran saya. Loloslah kembali nafas saya yang sesak sebelumnya. Kemudian bangkitlah kesadaran saya. Disaat harga diri saya akan jatuh ketitik lobang yang terdalam jika tidak bisa menjawab pertanyaan anak-anak saya. Datang pahlawan penyelamat yang penuh rasa halus dan bijaksana itu. Dia adalah istri saya.
Betapa ia tidak dendam pada saya. Betapa ia selalu siap membantu dan mendukung saya. Meskipun saya selalu meragukannya. Inilah rasa keheranan dan rasa hormat yang dalam terhadap dedikasinya.
11 Desember 2010
Ruang Perenungan
Ardi Bangujiwo
Teriakan Alam dan Kehidupan
Saat aku berteriak
Tolong aku Lapar
Malah banyak pintu sengaja dikunci
Saat aku meratap
Tolong aku dingin
Justru yang ada adalah caci maki
Saat aku menangis sambil berucap lirih
Tolong aku jatuh
Semakin terasa luruh hati ini akibat injakan kaki
Tetapi
Dengan berkata pelan saja
Mari sini ada banyak roti isi
Seolah semuanya berlomba berlari
Dengan berbisik tanpa suara
Hai lihatkan lembar-lembar ini
Semua mata seolah terkunci dan pasi
Hoi….Hoi….
Ada apa dengan hidup belakangan ini ?
Apakah nurani sudah tidak lagi punya gengsi ?
Apakah hati sudah mulai tidak berapi ?
Apakah semua materi itu pasti?
Betapa manusia yang mengajari dirinya sendiri
Saat ia berkata dengan kata benci
Saat ia tancapkan duri-duri
Saat ia tak respek lagi pada kata sang diri sejati
Satu hal yang perlu kita renungi
Alam dan Kehidupan ini pasti
Pasti dalam mengajarkan kasih
Pasti dalam membagikan rejeki yang melaluinya
Pasti dalam menjalani titah sejati
Perlukan kita tunggu Alam dan Kehidupan Berteriak Lagi…..
10 Desember 2010
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
Tolong aku Lapar
Malah banyak pintu sengaja dikunci
Saat aku meratap
Tolong aku dingin
Justru yang ada adalah caci maki
Saat aku menangis sambil berucap lirih
Tolong aku jatuh
Semakin terasa luruh hati ini akibat injakan kaki
Tetapi
Dengan berkata pelan saja
Mari sini ada banyak roti isi
Seolah semuanya berlomba berlari
Dengan berbisik tanpa suara
Hai lihatkan lembar-lembar ini
Semua mata seolah terkunci dan pasi
Hoi….Hoi….
Ada apa dengan hidup belakangan ini ?
Apakah nurani sudah tidak lagi punya gengsi ?
Apakah hati sudah mulai tidak berapi ?
Apakah semua materi itu pasti?
Betapa manusia yang mengajari dirinya sendiri
Saat ia berkata dengan kata benci
Saat ia tancapkan duri-duri
Saat ia tak respek lagi pada kata sang diri sejati
Satu hal yang perlu kita renungi
Alam dan Kehidupan ini pasti
Pasti dalam mengajarkan kasih
Pasti dalam membagikan rejeki yang melaluinya
Pasti dalam menjalani titah sejati
Perlukan kita tunggu Alam dan Kehidupan Berteriak Lagi…..
10 Desember 2010
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
KEHIDUPAN, KEMATIAN DAN KEABADIAN
Sebuah coretan yang terinspirasi oleh status salah satu sahabat di FB yaitu Bunda Asriana Kibtiyah
mengenai kehidupan, kematian dan keabadian. Mungkin sudah banyak yang sudah menulis mengenai hal ini, tetapi bagi saya tidak ada salahnya jika saya ingatkan kembali diri saya sendiri melalui status inspiratif dari sahabat saya ini
Betapa banyak kita sering merasa bahwa hidup kita bukanlah milik kita. Bahkan sudah terlalu banyak yang memesankan bahwa waktu dimana hak kita hidup itu akan ada waktu dan masa habisnya. Seperti halnya seorang ilmuwan yang mengetahui bahwa ciptaannya berupa sebuah batu baterai pasti akan berakhir masa berlakunya dalam mengalirkan energi listrik akibat sudah dicolok sana dan sini untuk dimanfaatkan dan dirubah energinya. Sebenarnya demikian juga manusia, yang beberapa kali merasa bahwa ia memahami dirinya.
Manusia sebenarnya menyadari bahwa energi listrik yang disebut hidup itu sudah banyak dipakainya dalam setiap kegiatan dan aktifitasnya. Mungkin dalam label pekerjaan, berolahraga, berfikir , merenung, istirahat dan lain-lainnya. Manusia menyadari sepenuhnya bahwa energi hidup yang dimilikinya pastilah lambat laun akan semakin berkurang.
Tetapi bukanlah manusia namanya jika ia tidak mencoba-coba, bahkan mencoba-coba untuk hal-hal yang dianggap tidak lumrah dan lebih lagi tidak genah (baca: jelas). Beberapa manusia yang jamak disebut manusia nyentrik sering mencoba kekuatan energi listrik kehidupannya dengan berlaku diluar kesadaran normal manusia biasa, misalnya dengan mendaki gunung yang tinggi yang jumlah udaranya saja terbatas, atau lebih ekstrim lagi dengan menceburkan diri kekolam renang yang didalam membayangkannya saja sudah membuat sesak dalam dada.
Terlepas si manusia ekstrim memperoleh keuntungan apa dari hal yang sudah dilakukannya dalam tingkatan keekstrimannya. Menurut saya ada yang jauh lebih luar biasa dan perlu waktu memahaminya. Manusia ini sebenarnya telah berhasil mengalami kematian dalam kehidupannya.
Betapa tidak setuju kita mengatakannya, tetapi memang begitulah senyatanya. Manusia ini berhasil mematikan rasa ketakutannya, rasa egoismenya dan rasa kekhawatiranya. Kemudian dalam kematiannya itu ia hidupkan keabadian mengenai rasa percaya dirinya, kecerdasan berfikir dan berhitung serta rasa pasrah sepenuhnya pada penciptaNYA.
Bagi saya inilah makna dari kehidupan dalam kematian untuk menuju keabadian. Betapa dalam kehidupan ini kita perlu sedikit menjadi manusia ekstrim yang perlu mengalami kematian dalam hal nafsu, egoisme, idelisme negatif, amarah dan hal-hal lainnya yang sekiranya tidak membangun diri kita. Kemudian setelah kita mengalami kematian dari semua rasa negatif tersebut kita masuki sebuah fase keabadian dimana tercipta ketenangan, keadilan, kebahagiaan dan hal-hal positif lainya?
Menulis tulisan ini menjadikan saya teringat satu kata bijak yang menjadi sebuah peninggalan berharga yang disampaikan oleh eyang saya dalam bahasa jawa yang bunyinya adalah “YEN SIRO AREP TUMUJU MARANG RAHAYU, SIRO KUDU BISO MATI SAK JERONING URIP” yang arti dalam bahas indonesianya kurang lebih (NAK APABILA KAMU INGIN MENUJU SEBUAH KEBAHAGIAAN HAKIKI, KAMU HARUS BISA MATI DIDALAM HIDUP)
Terimakasih sekali lagi untuk sahabat baru saya yang menginspirasi tulisan ini
10 Desember 2010
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
mengenai kehidupan, kematian dan keabadian. Mungkin sudah banyak yang sudah menulis mengenai hal ini, tetapi bagi saya tidak ada salahnya jika saya ingatkan kembali diri saya sendiri melalui status inspiratif dari sahabat saya ini
Betapa banyak kita sering merasa bahwa hidup kita bukanlah milik kita. Bahkan sudah terlalu banyak yang memesankan bahwa waktu dimana hak kita hidup itu akan ada waktu dan masa habisnya. Seperti halnya seorang ilmuwan yang mengetahui bahwa ciptaannya berupa sebuah batu baterai pasti akan berakhir masa berlakunya dalam mengalirkan energi listrik akibat sudah dicolok sana dan sini untuk dimanfaatkan dan dirubah energinya. Sebenarnya demikian juga manusia, yang beberapa kali merasa bahwa ia memahami dirinya.
Manusia sebenarnya menyadari bahwa energi listrik yang disebut hidup itu sudah banyak dipakainya dalam setiap kegiatan dan aktifitasnya. Mungkin dalam label pekerjaan, berolahraga, berfikir , merenung, istirahat dan lain-lainnya. Manusia menyadari sepenuhnya bahwa energi hidup yang dimilikinya pastilah lambat laun akan semakin berkurang.
Tetapi bukanlah manusia namanya jika ia tidak mencoba-coba, bahkan mencoba-coba untuk hal-hal yang dianggap tidak lumrah dan lebih lagi tidak genah (baca: jelas). Beberapa manusia yang jamak disebut manusia nyentrik sering mencoba kekuatan energi listrik kehidupannya dengan berlaku diluar kesadaran normal manusia biasa, misalnya dengan mendaki gunung yang tinggi yang jumlah udaranya saja terbatas, atau lebih ekstrim lagi dengan menceburkan diri kekolam renang yang didalam membayangkannya saja sudah membuat sesak dalam dada.
Terlepas si manusia ekstrim memperoleh keuntungan apa dari hal yang sudah dilakukannya dalam tingkatan keekstrimannya. Menurut saya ada yang jauh lebih luar biasa dan perlu waktu memahaminya. Manusia ini sebenarnya telah berhasil mengalami kematian dalam kehidupannya.
Betapa tidak setuju kita mengatakannya, tetapi memang begitulah senyatanya. Manusia ini berhasil mematikan rasa ketakutannya, rasa egoismenya dan rasa kekhawatiranya. Kemudian dalam kematiannya itu ia hidupkan keabadian mengenai rasa percaya dirinya, kecerdasan berfikir dan berhitung serta rasa pasrah sepenuhnya pada penciptaNYA.
Bagi saya inilah makna dari kehidupan dalam kematian untuk menuju keabadian. Betapa dalam kehidupan ini kita perlu sedikit menjadi manusia ekstrim yang perlu mengalami kematian dalam hal nafsu, egoisme, idelisme negatif, amarah dan hal-hal lainnya yang sekiranya tidak membangun diri kita. Kemudian setelah kita mengalami kematian dari semua rasa negatif tersebut kita masuki sebuah fase keabadian dimana tercipta ketenangan, keadilan, kebahagiaan dan hal-hal positif lainya?
Menulis tulisan ini menjadikan saya teringat satu kata bijak yang menjadi sebuah peninggalan berharga yang disampaikan oleh eyang saya dalam bahasa jawa yang bunyinya adalah “YEN SIRO AREP TUMUJU MARANG RAHAYU, SIRO KUDU BISO MATI SAK JERONING URIP” yang arti dalam bahas indonesianya kurang lebih (NAK APABILA KAMU INGIN MENUJU SEBUAH KEBAHAGIAAN HAKIKI, KAMU HARUS BISA MATI DIDALAM HIDUP)
Terimakasih sekali lagi untuk sahabat baru saya yang menginspirasi tulisan ini
10 Desember 2010
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
Senin, 06 Desember 2010
KEINDAHAN LANGIT BARU DALAM RAHASIA ANGKA BARU DAN TAHUN BARU
Anandaku, lihatlah kelangit barat
Meski sapuan mendung meliputi semburat jingga disana
Cahayanya yang samar tidaklah membuat ragu hati kita
Sang alam dengan waktunya tetaplah konsisten
Anandaku, beberapa waktu lagi
Tahun yang lalu mungkin sudah tidak ada lagi
Bulan yang lalu mungkin sudah lenyap hakiki
Minggu yang lalu mungkin hilang pasti
Hari yang lalu mungkin sirna seiring bergulirnya bumi
Jam yang lalu mungkin terganti layaknya kedipan mata indahmu
Tetapi bagi kami yang menerima Nanda sebagai amanah mulia
Hari-hari dimana alam berbicara atas nama waktu inilah yang mengkhawatirkan kami
Karena Kami tidaklah tahu pasti
Mungkin banyak hal yang Nanda catat dalam balutan kisah bersama kami
Atau bahkan tak ada kisah yang tercatat oleh Nanda karena tak ada yang cukup istimewa
Dihari inilah kami berdua memandangi wajah nanda yang akan segera berganti
Dihari inilah kami berdua melihat tumbuhnya amanah yang menjadi titipan kepada kami
Dihari inilah kami berdua menikmati wajah teduh nanda dalam tidur nanda
Dihari inilah kami berdua bersimpuh dan menangis
Bukan menangisi apa yang sudah kami berikan bagi nanda
Bukan pula menangisi apa yang sudah kami perjuangkan bagi nanda
Apalagi menangisi tingkah dan perbuatan nanda
Karena pemberian, perjuangan dan tingkah laku nanda adalah kelengkapan bagi jiwa kami
Hanya saja nanda
Kami khawatir
Kami Risau
Kami Sedih
Kami Galau
Kami sudah berupaya sepenuh tenaga
Kami sudah berjuang sehabis pemikiran
Kami sudah bertegar dengan seluruh jiwa
Hanya satu yang kami tuju
Menjadikan nanda insan yang mulia dimataNYA
Menjadikan nanda insan yang memiliki derajat dihadiratNYA
Menjadikan nanda insane yang bisa bertanggung jawab pada titahNYA
Tuhan
Inlah upaya kami berdua
Inilah doa yang kami panjatkan berdua setiap harinya
Inilah wujud rasa jika kami belum sesempurna sebagaimana yang Engkau minta
Hanya saja Tuhan, berikan seluruh hal yang terbaik bagi putra –putri hamba
RUANG PERENUNGAN JIWA
- AYAH dan BUNDA -
29 Muharram 1431 H
Dalam rangka refleksi Tahun baru 1432 H
Meski sapuan mendung meliputi semburat jingga disana
Cahayanya yang samar tidaklah membuat ragu hati kita
Sang alam dengan waktunya tetaplah konsisten
Anandaku, beberapa waktu lagi
Tahun yang lalu mungkin sudah tidak ada lagi
Bulan yang lalu mungkin sudah lenyap hakiki
Minggu yang lalu mungkin hilang pasti
Hari yang lalu mungkin sirna seiring bergulirnya bumi
Jam yang lalu mungkin terganti layaknya kedipan mata indahmu
Tetapi bagi kami yang menerima Nanda sebagai amanah mulia
Hari-hari dimana alam berbicara atas nama waktu inilah yang mengkhawatirkan kami
Karena Kami tidaklah tahu pasti
Mungkin banyak hal yang Nanda catat dalam balutan kisah bersama kami
Atau bahkan tak ada kisah yang tercatat oleh Nanda karena tak ada yang cukup istimewa
Dihari inilah kami berdua memandangi wajah nanda yang akan segera berganti
Dihari inilah kami berdua melihat tumbuhnya amanah yang menjadi titipan kepada kami
Dihari inilah kami berdua menikmati wajah teduh nanda dalam tidur nanda
Dihari inilah kami berdua bersimpuh dan menangis
Bukan menangisi apa yang sudah kami berikan bagi nanda
Bukan pula menangisi apa yang sudah kami perjuangkan bagi nanda
Apalagi menangisi tingkah dan perbuatan nanda
Karena pemberian, perjuangan dan tingkah laku nanda adalah kelengkapan bagi jiwa kami
Hanya saja nanda
Kami khawatir
Kami Risau
Kami Sedih
Kami Galau
Kami sudah berupaya sepenuh tenaga
Kami sudah berjuang sehabis pemikiran
Kami sudah bertegar dengan seluruh jiwa
Hanya satu yang kami tuju
Menjadikan nanda insan yang mulia dimataNYA
Menjadikan nanda insan yang memiliki derajat dihadiratNYA
Menjadikan nanda insane yang bisa bertanggung jawab pada titahNYA
Tuhan
Inlah upaya kami berdua
Inilah doa yang kami panjatkan berdua setiap harinya
Inilah wujud rasa jika kami belum sesempurna sebagaimana yang Engkau minta
Hanya saja Tuhan, berikan seluruh hal yang terbaik bagi putra –putri hamba
RUANG PERENUNGAN JIWA
- AYAH dan BUNDA -
29 Muharram 1431 H
Dalam rangka refleksi Tahun baru 1432 H
Langganan:
Postingan (Atom)