Ayah-Bunda yang dahsyat……..
Tulisan ini adalah sebuah tulisan yang terinspirasi dari sebuah buku yang ditulis oleh seorang peneliti jepang yang bernama Dr. Masaru Emoto yang berjudul “Miracle Of Water” atau dalam versi bahasa indonesianya yang berjudul “The Hidden Message in Water -Pesan Rahasia Sang Air”.
Dalam penelitiannya selama kurun waktu 20 tahun, akhirnya Dr. Masaru Emoto menemukan sebuah pesan besar rahasia Tuhan melalui percobaan-percobaan sederhana yang dilakukannya terhadap air.
Ratusan bentuk kristal air tercipta dan ternyata spesifik bentuknya sesuai dengan pesan yang disampaikan kepadanya, hanya dengan melalui penyampaian kata-kata atau mendekatkan sebuah tulisan pada air tersebut. Sebagai contoh air akan membentuk sebuah Kristal indah dan sangat menawan saat diberi kata-kata atau tulisan yang berisi pesan positif atau doa misalkan: Cinta dan syukur , Terimakasih, Bijaksana, Kamu Manis dan beberapa pesan positif lainnya. Sedangkan sebaliknya bila Sang air diberi kata-kata atau tulisan yang bersifat negatif misalkan: Kamu Bodoh, Aku Muak dengan Kamu maka bentuk-bentuk Kristal yang awalnya indah dan menawan tersebut menjadi pecah,berantakan, tak beraturan dan hancur. Sebagai Ilustrasi silahkan lihat video di link berikut ini http://www.youtube.com/watch?v=tAvzsjcBtx8
Ayah-Bunda yang dahsyat…….
Saya yakin dan percaya bahwa kita semua telah tahu dan memahami bahwa sebenarnya 2/3 bagian bumi yang kita tinggali ini terdiri atas air, dan hanya 1/3 saja yang berisi daratan.
Lalu bagimana dengan tubuh anak-anak kita?
Tubuh bayi yang baru dilahirkan ternyata menurut penelitian 90 % berisi air, dan semakin dewasa akan mencapai keseimbangan di titik 70 % yang berisi komposisi air. Lalu apa hubungannya dengan penelitian Dr. Masaru Emoto dengan Anak-anak kita?
Betul sekali Ayah-Bunda yang Dahsyat….
Sifat air yang diteliti oleh Dr. Masaru Emoto tadi juga terdapat dalam komposisi tubuh anak-anak kita. Sehingga apapun yang kita katakan, kita sampaikan secara verbal dan non verbal akan bersifat sebagaimana air yang diteliti oleh Dr. Masaru Emoto tadi. Perhatikanlah anak-anak yang selama ini dibesarkan dengan pola kata dan pengasuhan negatif maka cenderung akan lebih arogan, keras perangainya dan lebih tidak stabil emosinya. Sedangkan anak-anak yang dibesarkan dengan kata-kata positif, memotivasi dan hangat cenderung stabil, ceria atau bahkan mengayomi.
Bahkan kejaiban air ini juga telah langsung dibuktikan oleh seorang rekan saya yang berprofesi dalam pelayanan penyembuhan, dimana ia sering memberikan air doa kepada anak-anak yang dibawa berobat kepadanya, dan sejauh ini 80 % hasilnya efektif.
Lalu bagaimana agar kita sebagai orang tua tidak terjebak pada emosional sesaat yang akan berdampak merusak Kristal-kristal indah dan menawan yang bahkan tidak dapat kita lihat, tetapi nyata ada dalam tubuh anak-anak kita? Seorang sahabat pernah berbagi pada saya bahwa orang tua hanya perlu menyadari emosinya dan melakukan pengendalian terhadap kata-kata yang diucapkannya. Salah satu tips yang paling manjur dan sederhana adalah setaip kali orang tua akan marah atau mengucapkan kata-kata negatif maka buru-burulah minum seteguk air, karena dengan demikian otak sadar dan otak bawah sadar kita akan tersinkronisasi kembali untuk dapat terkontrol
Jadi Ayah- Bunda yang Dahsyat…..
Mari kita bersama mencoba merenungi pesan yang Tuhan sampaikan lewat kejaiban air ini demi anak-anak kita dengan bersama berupaya mengendalikan kata dan sikap-sikap kita.
Salam Keberkahan
Ardi Bangunjiwo
Untuk Informasi dan kontak pelayanan sosial sharing materi parenting “Sayalah Orangtua Dahsyat” mohon hubungi email : wahyudi.ardian@gmail.com atau Hp: 0821 1148 7403
Selasa, 07 Juni 2011
Kamis, 21 April 2011
बेर्बहगिया उन्तुक Ketidaksempurnaan
Ada yang tak sempurna dari pikiran ini, ada yang tak sempurna dari sikap ini. Bahkan lebih sangat mungkin banyak ketidaksempurnaan dalam tulisan-tulisan ini.
Bicara mengenai ketidaksempurnaan seperti halnya membicarakan sebuah ruangan yang berisi hal-hal yang tabu bagi egoisme sang diri. Bayangkan hanya dengan menambahkan kata TIDAK dibagian depan kata SEMPURNA sebuah ketidaksempurnaan begitu banyak yang tak menyukai. Jangankan suka apalagi nge’fans sebagaimaan gaya bahasa saat ini, sebatas mendengar kalimat itu saja sang diri serasa diancam dengan sebuah eksekusi mati.
Perlawanan yang sengit hingga perjuangan yang sulit sering kali tampil sebagai tanda bahwa si” egoisme” menunjukkan ketidaksetujuannya. Namun hasil dari perlawanan dan perjuangan itu lebih seringkali berwujud berupa sikap juga sifat yang akhirnya semakin menunjukkan betapa tak sempurnanya diri.
Sebuah kesempurnaan memang sangatlah indah disaat ia menari-nari bagai sebuah mimpi. Tetapi begitu mimpi itu berubah menjadi buruk sekali. Kita jauh lebih sering berfokus pada mimpi buruk itu sendiri. Sehingga dibagian akhir dari mimpi itu seringkali bukan kesempurnaan yang kita temui tetapi justru seolah mendorong sang diri bertemu dengan ketidaksempurnaan kembali.
Salah satu hal yang lebih luar biasa dari ketidaksempurnaan itu adalah meskipun ia terasa pahit, walaupun bebannya terasa sangat berat, andaipun tampilannya terlihat sangatlah buruk. Tetap banyak sekali orang yang terus merasa tergurui, ternasehati atau tercerahkan oleh ketidaksempurnaannya sendiri. Hebatnya lagi ketidaksempurnaan ini seolah menjadi sebuah bahan bakar bagi sebagian orang untuk memacu dirinya untuk mengalahkan egoisme dirinya sendiri sehingga bergerak lebih maju.
Betapa berkat ketidaksempurnaan yang sering dialami, betapa akibat ketidaksempurnaan yang sering terjadi, justru membuat penguatan-penguatan serta kesempurnaan itu terjadi bahkan dengan sendirinya. Inilah mengapa banyak orang yang bercerita mengenai pengalaman kejaban-keajaiban saat dirinya seolah tersudut dengan ketidaksempurnaannya.
Seolah ketidaksempurnaan itu adalah sebuah kunci dimana hanya bisa dibuka dan dilengkapi jika kita mau sedikit menahan egoisme diri mengenai sebuah kesempurnaan dan membiarkan Tuhan menyempurnakannya.
Jadi jika kita saat ini masih mengalami, merasakan, menjalani sebuah ketidaksempurnaan. Saran saya adalah segeralah berbahagia untuknya dan rayakanlah kehadirannya. Karena disanalah Tangan Tuhan akan segera Menyapa.
Jakarta 21-04-11
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
Bicara mengenai ketidaksempurnaan seperti halnya membicarakan sebuah ruangan yang berisi hal-hal yang tabu bagi egoisme sang diri. Bayangkan hanya dengan menambahkan kata TIDAK dibagian depan kata SEMPURNA sebuah ketidaksempurnaan begitu banyak yang tak menyukai. Jangankan suka apalagi nge’fans sebagaimaan gaya bahasa saat ini, sebatas mendengar kalimat itu saja sang diri serasa diancam dengan sebuah eksekusi mati.
Perlawanan yang sengit hingga perjuangan yang sulit sering kali tampil sebagai tanda bahwa si” egoisme” menunjukkan ketidaksetujuannya. Namun hasil dari perlawanan dan perjuangan itu lebih seringkali berwujud berupa sikap juga sifat yang akhirnya semakin menunjukkan betapa tak sempurnanya diri.
Sebuah kesempurnaan memang sangatlah indah disaat ia menari-nari bagai sebuah mimpi. Tetapi begitu mimpi itu berubah menjadi buruk sekali. Kita jauh lebih sering berfokus pada mimpi buruk itu sendiri. Sehingga dibagian akhir dari mimpi itu seringkali bukan kesempurnaan yang kita temui tetapi justru seolah mendorong sang diri bertemu dengan ketidaksempurnaan kembali.
Salah satu hal yang lebih luar biasa dari ketidaksempurnaan itu adalah meskipun ia terasa pahit, walaupun bebannya terasa sangat berat, andaipun tampilannya terlihat sangatlah buruk. Tetap banyak sekali orang yang terus merasa tergurui, ternasehati atau tercerahkan oleh ketidaksempurnaannya sendiri. Hebatnya lagi ketidaksempurnaan ini seolah menjadi sebuah bahan bakar bagi sebagian orang untuk memacu dirinya untuk mengalahkan egoisme dirinya sendiri sehingga bergerak lebih maju.
Betapa berkat ketidaksempurnaan yang sering dialami, betapa akibat ketidaksempurnaan yang sering terjadi, justru membuat penguatan-penguatan serta kesempurnaan itu terjadi bahkan dengan sendirinya. Inilah mengapa banyak orang yang bercerita mengenai pengalaman kejaban-keajaiban saat dirinya seolah tersudut dengan ketidaksempurnaannya.
Seolah ketidaksempurnaan itu adalah sebuah kunci dimana hanya bisa dibuka dan dilengkapi jika kita mau sedikit menahan egoisme diri mengenai sebuah kesempurnaan dan membiarkan Tuhan menyempurnakannya.
Jadi jika kita saat ini masih mengalami, merasakan, menjalani sebuah ketidaksempurnaan. Saran saya adalah segeralah berbahagia untuknya dan rayakanlah kehadirannya. Karena disanalah Tangan Tuhan akan segera Menyapa.
Jakarta 21-04-11
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
Senin, 21 Februari 2011
KISAH KIPAS ANGIN
Sebuah kisah inspiratif bagi para orang tua yang mungkin berfikir komplek dan banyak khawatir mengenai masa depan jika anak-anak tidak pandai dan menguasai ilmu tertentu.
Dikisahkan disebuah perusahaan sabun ternama yang tengah berkembang pesat terdapat suatu masalah dengan banyak hadirnya keluhan dari para pelanggannya. Sabun-sabun yang dijual dan diedarkan dibeberapa toko ternama ternyata banyak yang kosong tak berisi alias hanya bungkusnya saja.
Akhirnya sang pemimpin perusahaan sabun tersebut memutar otak dan mencari berbagai cara untuk menekan angka keluhan ini. Sejumlah konsultan dan tenaga ahli tehnis dari berbagai disiplin ilmu didatangkan untuk membuat suatu metode dan alat baru . Invetasi jutaan dollar dan sebuah peralatan besar yang dilengkapi dengan sinar x dan sinar infra merah dipasang pada titik akhir dimana kotak-kotak sabun ini akan dimasukan dalam kardus untuk kemudian dijual.
Namun setelah 6 bulan alat yang direkomendasikan para konsultan ini digunakan untuk bekerja timbulah suatu permasalahan yang baru, dimana alat tersebut menghabiskan energi listrik serta menimbulkan biaya yang produksi yang amat tinggi.
Sang pimpinan perusahaan kembali berfikir bagaimana agar produk sabun di pabriknya bisa terjamin terjual dalam kondisi baik dan terisi, tetapi biaya untuk pengecekannya rendah. Dalam kebingungannya tersebut datanglah seorang anak murid STM yang kebetulan sedang mengadakan Kerja Praktek menawarkan bantuan untuk memberikan solusi terhadap permasalahan perusahaan tersebut.
Awalnya sang pimpinan perusahaan ini ragu, namun melihat kesungguhan niat si anak tersebut, maka sang pimpinan perusahaan memberikan kepercayaan kepada anak ini.
Akhirnya sesuatu yang menarikpun terjadi, pertama-tama kali anak ini meminta sang pimpinan perusahaan untuk melepas semua alat yang dilengkapi dengan sinar X dan sinar infra merah itu kemudian menggantinya dengan sebuah kipas angin. Sang anak juga meminta sang pimpinan perusahaan memasang sebuah alat berupa “sabuk” yang dapat berjalan sehingga anak tersebut dapat meletakkan kotak-kotak sabun yang akan dijual tersebut pada “sabuk” berjalan tersebut lalu menyalakan kipas anginnya. Hasilnya kardus-kardus sabun yang tidak berisi sabun akan terlempar jatuh. SEDERHANA dan MURAH itu yang menjadi komentar sang pimpinan perusahaan.
Mulai saat itulah sang anak diangkat menjadi seorang manager Quality Control diperusahaan tersebut meskipun anak tersebut bahkan belum lulus STM.
Ayah-Bunda mulia, yang dibutuhkan anak-anak kita sebenarnya bukanlah sebuah persamaan matematis yang rumit, bukan pula sebuah analogi yang komplek lengkap dengan fungsi logaritma dan pangkat yang banyak. Yang mereka butuhkan sebenarnya adalah kesederhanaan ide, sebuah ketertarikan dan rasa penasaran sehingga memicu kreatifitas untuk dapat langsung diterapkan dalam kehidupan mereka kelak.
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
21 February 2011
Dikisahkan disebuah perusahaan sabun ternama yang tengah berkembang pesat terdapat suatu masalah dengan banyak hadirnya keluhan dari para pelanggannya. Sabun-sabun yang dijual dan diedarkan dibeberapa toko ternama ternyata banyak yang kosong tak berisi alias hanya bungkusnya saja.
Akhirnya sang pemimpin perusahaan sabun tersebut memutar otak dan mencari berbagai cara untuk menekan angka keluhan ini. Sejumlah konsultan dan tenaga ahli tehnis dari berbagai disiplin ilmu didatangkan untuk membuat suatu metode dan alat baru . Invetasi jutaan dollar dan sebuah peralatan besar yang dilengkapi dengan sinar x dan sinar infra merah dipasang pada titik akhir dimana kotak-kotak sabun ini akan dimasukan dalam kardus untuk kemudian dijual.
Namun setelah 6 bulan alat yang direkomendasikan para konsultan ini digunakan untuk bekerja timbulah suatu permasalahan yang baru, dimana alat tersebut menghabiskan energi listrik serta menimbulkan biaya yang produksi yang amat tinggi.
Sang pimpinan perusahaan kembali berfikir bagaimana agar produk sabun di pabriknya bisa terjamin terjual dalam kondisi baik dan terisi, tetapi biaya untuk pengecekannya rendah. Dalam kebingungannya tersebut datanglah seorang anak murid STM yang kebetulan sedang mengadakan Kerja Praktek menawarkan bantuan untuk memberikan solusi terhadap permasalahan perusahaan tersebut.
Awalnya sang pimpinan perusahaan ini ragu, namun melihat kesungguhan niat si anak tersebut, maka sang pimpinan perusahaan memberikan kepercayaan kepada anak ini.
Akhirnya sesuatu yang menarikpun terjadi, pertama-tama kali anak ini meminta sang pimpinan perusahaan untuk melepas semua alat yang dilengkapi dengan sinar X dan sinar infra merah itu kemudian menggantinya dengan sebuah kipas angin. Sang anak juga meminta sang pimpinan perusahaan memasang sebuah alat berupa “sabuk” yang dapat berjalan sehingga anak tersebut dapat meletakkan kotak-kotak sabun yang akan dijual tersebut pada “sabuk” berjalan tersebut lalu menyalakan kipas anginnya. Hasilnya kardus-kardus sabun yang tidak berisi sabun akan terlempar jatuh. SEDERHANA dan MURAH itu yang menjadi komentar sang pimpinan perusahaan.
Mulai saat itulah sang anak diangkat menjadi seorang manager Quality Control diperusahaan tersebut meskipun anak tersebut bahkan belum lulus STM.
Ayah-Bunda mulia, yang dibutuhkan anak-anak kita sebenarnya bukanlah sebuah persamaan matematis yang rumit, bukan pula sebuah analogi yang komplek lengkap dengan fungsi logaritma dan pangkat yang banyak. Yang mereka butuhkan sebenarnya adalah kesederhanaan ide, sebuah ketertarikan dan rasa penasaran sehingga memicu kreatifitas untuk dapat langsung diterapkan dalam kehidupan mereka kelak.
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
21 February 2011
Rabu, 22 Desember 2010
KEKUATAN INTIMIDASI vs KESADARAN DIRI
“DILARANG MEMBUANG SAMPAH DISINI” . Begitu bunyi tulisan dengan warna merah yang terlihat disisi sebuah rumah dengan tembok yang cukup tinggi. Entah mengapa sepertinya tumpukan sampah ini bukannya malah terkurangi. Justru terlihat semakin hari sang sampah malah tidak terhenti. Lebih parah lagi sekarangpun sudah menimbulkan aroma yang tidak lagi wangi.
Memang bila kita bicara mengenai suatu hal yang dibenci pastilah akan menuntut pula kesadaran tinggi. Bukan hanya sebuah antipati. Karena antipati bukan merefleksikan sebuah kesadaran, melainkan sebuah luapan emosi.
Dasar memang manusia ciptaan yang sempurna. Sehingga apapun yang menjadi pemikiran dan maunya sering menjadi teka-teki. Tidak hanya susah ditebak. Bahkan sudah terang dan pasti ia tetap berusaha untuk menghindar jika perlu berlari.
Seperti halnya tulisan tadi. Entah akan dimaknai himbauan, marah atau caci maki, tetapi layaknya iklan di televisi. Ia justru memicu untuk mencoba dan menguji. Jika ingin dibandingkan dengan yang lebih besar lagi. Bukankah sudah banyak larangan yang dibuat oleh otorisasi negeri ini. Dari yang paling remeh sampai yang sifatnya komplek. Tetapi tetap saja banyak yang merasa belum terlindungi.
Layaknya peritiwa saat bangun pagi. Kesadaran itu sangat mudah datang dan pergi. Kecuali telah terpatri mati. Memahami kesadaran itu seperti halnya menguji pikiran sendiri. Jangankan meminta pikiran untuk berhenti. Justru dengan kata-kata intimidasi, provokasi dan larangan seperti tadi. Ia akan semakin menjadi untuk lebih kreatif bahkan cenderung melampaui.
Jika disandingkan dalam suatu perlombaan atau kompetisi. Sepertinya lebih mudah dan cepat juara untuk hal-hal yang mengintimidasi. Contoh yang paling sering saya hadapi adalah saat menyetir dijalan raya. Hanya karena orang lebih keras suara knalpotnya, karena ia lebih kencang lari motornya, atau lebih cantik yang diboncengnya. Tiba-tiba ada saja yang seperti memaksa saya untuk mengalahkannya. Padahal disaat yang sama juga ada suara yang bilang untuk membiarkan saja.
Memang sebuah intimidasi, provokasi atau sebuah larangan itu langsung memicu untuk direalisasi. Bukan karena sifatnya kata-kata yang sakti, tetapi justru lebih pada kepuasan yang sering mengiringi. Berbeda dengan sang Kesadaran diri yang hanya sebuah bahasa diam pada diri sendiri, Lebih lagi sifatnya yang jauh dari terpuaskan dan dipuji . Inilah mungkin yang membuat sebuah kesadaran diri banyak tak lagi berarti. Jadi Putuskan Saja Ingin intimidasi atau kata hati
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
21 Desember 2010
Memang bila kita bicara mengenai suatu hal yang dibenci pastilah akan menuntut pula kesadaran tinggi. Bukan hanya sebuah antipati. Karena antipati bukan merefleksikan sebuah kesadaran, melainkan sebuah luapan emosi.
Dasar memang manusia ciptaan yang sempurna. Sehingga apapun yang menjadi pemikiran dan maunya sering menjadi teka-teki. Tidak hanya susah ditebak. Bahkan sudah terang dan pasti ia tetap berusaha untuk menghindar jika perlu berlari.
Seperti halnya tulisan tadi. Entah akan dimaknai himbauan, marah atau caci maki, tetapi layaknya iklan di televisi. Ia justru memicu untuk mencoba dan menguji. Jika ingin dibandingkan dengan yang lebih besar lagi. Bukankah sudah banyak larangan yang dibuat oleh otorisasi negeri ini. Dari yang paling remeh sampai yang sifatnya komplek. Tetapi tetap saja banyak yang merasa belum terlindungi.
Layaknya peritiwa saat bangun pagi. Kesadaran itu sangat mudah datang dan pergi. Kecuali telah terpatri mati. Memahami kesadaran itu seperti halnya menguji pikiran sendiri. Jangankan meminta pikiran untuk berhenti. Justru dengan kata-kata intimidasi, provokasi dan larangan seperti tadi. Ia akan semakin menjadi untuk lebih kreatif bahkan cenderung melampaui.
Jika disandingkan dalam suatu perlombaan atau kompetisi. Sepertinya lebih mudah dan cepat juara untuk hal-hal yang mengintimidasi. Contoh yang paling sering saya hadapi adalah saat menyetir dijalan raya. Hanya karena orang lebih keras suara knalpotnya, karena ia lebih kencang lari motornya, atau lebih cantik yang diboncengnya. Tiba-tiba ada saja yang seperti memaksa saya untuk mengalahkannya. Padahal disaat yang sama juga ada suara yang bilang untuk membiarkan saja.
Memang sebuah intimidasi, provokasi atau sebuah larangan itu langsung memicu untuk direalisasi. Bukan karena sifatnya kata-kata yang sakti, tetapi justru lebih pada kepuasan yang sering mengiringi. Berbeda dengan sang Kesadaran diri yang hanya sebuah bahasa diam pada diri sendiri, Lebih lagi sifatnya yang jauh dari terpuaskan dan dipuji . Inilah mungkin yang membuat sebuah kesadaran diri banyak tak lagi berarti. Jadi Putuskan Saja Ingin intimidasi atau kata hati
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
21 Desember 2010
Jumat, 17 Desember 2010
BALADA GETUK LINDRI
Lembut, putih, mulus dan yang pasti wangi. Disaat menikmati pun serasa mulut ini terkunci. Entah karena sudah dikuasai pikiran atau halusinasi. Tetapi setiap dicoba dihayati semakin sensasinya semakin menjadi-jadi. Mungkin karena campuran yang sudah sempurna sehingga kadang nyaris kekurangannya tak terasa lagi.
Sebuah karya cipta yang bersahaja. Hanya dengan bahan yang sederhana. Bahkan cenderung dipandang sebelah mata tetapi menghasilkan suatu yang luar biasa.Melihat proses terjadinya saja seperti melihat sebuah fenomena. Karena hanya mengunakan tidak lebih dari 10 bahan saja.
Menurut cerita yang membuatnya semua ini memiliki keterkaitan dengan jalan hidupnya. Karena prosesnya nyaris tidak ada yang sia-sia. Dipanaskan, dipukul, diuleni sampai akhirnya di cetak dan disajikan itulah katanya. Meskipun tidak mentereng walaupun sudah diberi nama, dipoles menarik serta dibungkus seindahnya . Namun banyak sekali yang menyukai dan mengidolakanya. Minimal oleh orang desa dan pinggiran seperti saya.
‘Kembali kemasa muda sewaktu sedang susah dirantau’ ucap teman saya saat kami berdua mencoba kembali mencicipinya. Mungkin tidak nyaman dipanaskan, dipukul dan diuleni. Tetapi setelah jadi sungguh enak sekali. Seperti keadaan kami sekarang ini.
Dengan kesederhaaan yang berasal dari ubi, gula, kelapa dan vanili. Makanan ini mengajarkan kepada kami mengenai semangat yang terus terpatri. Bahwa keadaan yang baik dan enak bukan hasil dari ongkang-ongkang kaki. Keadaan yang penuh dengan ruahnya rejeki bukan berarti tidak perlu dicari dan digali. Justru dengan melalui keadaan sebagaimana dialami sang Getuk Lindri. Semua yang kita nikmati seperti terasa jauh lebih berarti.
Mungkin jika sang ubi tidak dipanasi, dipukul hingga halus, lalu diuleni. Ia tidak lebih dari sebuah makanan biasa yang bahkan tidak istimewa. Tidak mungkin pula menjadi oleh-oleh dan dibawa kekota-kota lainnya. Begitupun dengan sahabat saya yang telah berjaya.
17 Desember 2010
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
Sebuah karya cipta yang bersahaja. Hanya dengan bahan yang sederhana. Bahkan cenderung dipandang sebelah mata tetapi menghasilkan suatu yang luar biasa.Melihat proses terjadinya saja seperti melihat sebuah fenomena. Karena hanya mengunakan tidak lebih dari 10 bahan saja.
Menurut cerita yang membuatnya semua ini memiliki keterkaitan dengan jalan hidupnya. Karena prosesnya nyaris tidak ada yang sia-sia. Dipanaskan, dipukul, diuleni sampai akhirnya di cetak dan disajikan itulah katanya. Meskipun tidak mentereng walaupun sudah diberi nama, dipoles menarik serta dibungkus seindahnya . Namun banyak sekali yang menyukai dan mengidolakanya. Minimal oleh orang desa dan pinggiran seperti saya.
‘Kembali kemasa muda sewaktu sedang susah dirantau’ ucap teman saya saat kami berdua mencoba kembali mencicipinya. Mungkin tidak nyaman dipanaskan, dipukul dan diuleni. Tetapi setelah jadi sungguh enak sekali. Seperti keadaan kami sekarang ini.
Dengan kesederhaaan yang berasal dari ubi, gula, kelapa dan vanili. Makanan ini mengajarkan kepada kami mengenai semangat yang terus terpatri. Bahwa keadaan yang baik dan enak bukan hasil dari ongkang-ongkang kaki. Keadaan yang penuh dengan ruahnya rejeki bukan berarti tidak perlu dicari dan digali. Justru dengan melalui keadaan sebagaimana dialami sang Getuk Lindri. Semua yang kita nikmati seperti terasa jauh lebih berarti.
Mungkin jika sang ubi tidak dipanasi, dipukul hingga halus, lalu diuleni. Ia tidak lebih dari sebuah makanan biasa yang bahkan tidak istimewa. Tidak mungkin pula menjadi oleh-oleh dan dibawa kekota-kota lainnya. Begitupun dengan sahabat saya yang telah berjaya.
17 Desember 2010
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
Selasa, 14 Desember 2010
MAAF BERANTAI
Mata baru terbuka Karena mentari juga baru menunjukan wajahnya. Tetapi dalam pagi buta seorang ibu yang berlari-lari sekencangnya. Ia bukan sengaja berlari untuk tujuan olah raga seperti lazimnya. Apalagi demi kepentingan dan alasan mengenai bentuk badan dan ukuran standar lingkar pinggang yang mungkin didapatkan berdasarkan obrolan dengan ibu-ibu lainnya.
Sang ibu sedang mengejar buah hatinya. Buah hati yang sebenarnya diharapkannya menurut dan berlaku patuh padanya. Terlihatnya seperti si buah hati ini sedang mengerjai ibunya. Tetapi entah mengapa ada perasaan bahwa ada yang salah paham dari keduanya.
Karena sudah berputar dan berlari dua kali lengkap dengan kehebohannya. Timbul kekuatiran saya jika anjing peliharaan tetangga akan menimbulakn kegaduhan berikutnya dengan gonggongan besarnya. Setelah pas posisinya didepan saya lalu saya bertanya . ‘ Bu ada apa?’. Jawaban sederhana dengan nafas terengah saya terima ‘ anak saya ndak mau sekolah’.
Demi menyelamatkan kedamaian pagi ini saya pun bertindak layaknya pahlawan pagi buta. Disaat si anak lewat didepan saya , badannya saya tarik sekencangnya sehingga masuk halaman rumah saya. Saking kencang larinya, jadi sewaktu masuk dia menabrak tanaman kesayangan istri saya.Ya sudah lah ini masalah berikutnya, saya selesaikan dulu saja masalah utamanya.
Sambil membantunya berdiri saya berkata ‘ sudah sembunyi saja dulu dipojok sana’ sambil saya menunjuk pojok rumah saya. Sewaktu ibunya lewat kembali saya berkata ‘ Anaknya sudah masuk rumah bu, coba lihat dulu’. Tanpa dikomando si ibu dalam kecepatan lari super tinggi itu mengerem tubuhnya dengan sedemikian lihainya sambil memandang saya ‘ Oya, makasih ya pak, biar saya lihat dirumah’. Ibu ini tidak sadar bahwa saya tidak pernah berkata anaknya sudah masuk kerumahnya, tetapi masuk dirumah saya. Tetapi demi menjadi jagoan dadakan apapun saya tempuh demi misi sempurna.
Setelah sepi dari riuhnya aksi kejar tadi. Saya menghampiri si anak yang tengah sembunyi sambil bertanya ‘kamu kenapa lari?’.
Dengan tetap terengah si anak berkata ‘ Saya belum mengerjakan PR saya, saya takut pergi sekolah’.
Dalam acara jongkok bersama itu saya bertanya’ kamu takut pak guru atau bu guru?’. Sambil menggelengkan kepalanya ia berkata ’tidak, saya hanya takut jika dipermalukan didepan teman-teman lainnya, karena biasaya jika tidak mengerjakan PR disuruh berdiri didepan kelas’.
Dengan sedikit tehnik bicara sehingga meyakinkannya untuk menuruti saran saya. Akhirnya ia beranjak pergi dengan wajah ceria. Sewaktu saya berangkat kerja, terlihat di kejauhan si anak itu sedang bersepeda menuju sekolahnya.
Saat pulang kerja istri saya tiba-tiba cerita. ‘Ada kiriman kue dari tetangga ucapan pesanya terimakasih atas bantuannya’. Tanpa berkomentar soal kue yang dibicarakannya, saya lirik bunga yang sempat kena tubuh tambun si anak tetangga yang sudah rapi kembali. Saya hanya berkata ‘ maafkan saya sudah membuat tanaman itu berubah posisinya’. Istri saya tersenyum dan berkata ‘ tidak apa, karena kamu telah membuat aku bangga’.
Rupanya si anak bercerita mengenai kata-kata yang saya sarankan padanya. Bukan kata-kata mantra, apalagi jenis kata mutiara dan motivasi yang membara. Yang saya sarankan hanyalah ‘ Ucapkan maaf pada ibumu, dan mintakan ibumu menulis surat kepada gurumu untuk meminta maaf atas kelalaianmu belum mengerjakan PRmu, serta ucapkan janji pada dirimu untuk tidak mengulangi hal ini lagi’.
Bagi para sahabat guru, maafkan saya yang menyarankan sang anak untuk meminta maaf pada anda semua. Tetapi harga diri sang anak adalah segalanya. Lebih penting jujur dari pada membiarkannya berperang dengan hatinya demi menyelesaikan PRnya dengan berbagi cara, bahkan mungkin dengan mencontek apalagi meminjam paksa.
14 Desember 2010
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
Sang ibu sedang mengejar buah hatinya. Buah hati yang sebenarnya diharapkannya menurut dan berlaku patuh padanya. Terlihatnya seperti si buah hati ini sedang mengerjai ibunya. Tetapi entah mengapa ada perasaan bahwa ada yang salah paham dari keduanya.
Karena sudah berputar dan berlari dua kali lengkap dengan kehebohannya. Timbul kekuatiran saya jika anjing peliharaan tetangga akan menimbulakn kegaduhan berikutnya dengan gonggongan besarnya. Setelah pas posisinya didepan saya lalu saya bertanya . ‘ Bu ada apa?’. Jawaban sederhana dengan nafas terengah saya terima ‘ anak saya ndak mau sekolah’.
Demi menyelamatkan kedamaian pagi ini saya pun bertindak layaknya pahlawan pagi buta. Disaat si anak lewat didepan saya , badannya saya tarik sekencangnya sehingga masuk halaman rumah saya. Saking kencang larinya, jadi sewaktu masuk dia menabrak tanaman kesayangan istri saya.Ya sudah lah ini masalah berikutnya, saya selesaikan dulu saja masalah utamanya.
Sambil membantunya berdiri saya berkata ‘ sudah sembunyi saja dulu dipojok sana’ sambil saya menunjuk pojok rumah saya. Sewaktu ibunya lewat kembali saya berkata ‘ Anaknya sudah masuk rumah bu, coba lihat dulu’. Tanpa dikomando si ibu dalam kecepatan lari super tinggi itu mengerem tubuhnya dengan sedemikian lihainya sambil memandang saya ‘ Oya, makasih ya pak, biar saya lihat dirumah’. Ibu ini tidak sadar bahwa saya tidak pernah berkata anaknya sudah masuk kerumahnya, tetapi masuk dirumah saya. Tetapi demi menjadi jagoan dadakan apapun saya tempuh demi misi sempurna.
Setelah sepi dari riuhnya aksi kejar tadi. Saya menghampiri si anak yang tengah sembunyi sambil bertanya ‘kamu kenapa lari?’.
Dengan tetap terengah si anak berkata ‘ Saya belum mengerjakan PR saya, saya takut pergi sekolah’.
Dalam acara jongkok bersama itu saya bertanya’ kamu takut pak guru atau bu guru?’. Sambil menggelengkan kepalanya ia berkata ’tidak, saya hanya takut jika dipermalukan didepan teman-teman lainnya, karena biasaya jika tidak mengerjakan PR disuruh berdiri didepan kelas’.
Dengan sedikit tehnik bicara sehingga meyakinkannya untuk menuruti saran saya. Akhirnya ia beranjak pergi dengan wajah ceria. Sewaktu saya berangkat kerja, terlihat di kejauhan si anak itu sedang bersepeda menuju sekolahnya.
Saat pulang kerja istri saya tiba-tiba cerita. ‘Ada kiriman kue dari tetangga ucapan pesanya terimakasih atas bantuannya’. Tanpa berkomentar soal kue yang dibicarakannya, saya lirik bunga yang sempat kena tubuh tambun si anak tetangga yang sudah rapi kembali. Saya hanya berkata ‘ maafkan saya sudah membuat tanaman itu berubah posisinya’. Istri saya tersenyum dan berkata ‘ tidak apa, karena kamu telah membuat aku bangga’.
Rupanya si anak bercerita mengenai kata-kata yang saya sarankan padanya. Bukan kata-kata mantra, apalagi jenis kata mutiara dan motivasi yang membara. Yang saya sarankan hanyalah ‘ Ucapkan maaf pada ibumu, dan mintakan ibumu menulis surat kepada gurumu untuk meminta maaf atas kelalaianmu belum mengerjakan PRmu, serta ucapkan janji pada dirimu untuk tidak mengulangi hal ini lagi’.
Bagi para sahabat guru, maafkan saya yang menyarankan sang anak untuk meminta maaf pada anda semua. Tetapi harga diri sang anak adalah segalanya. Lebih penting jujur dari pada membiarkannya berperang dengan hatinya demi menyelesaikan PRnya dengan berbagi cara, bahkan mungkin dengan mencontek apalagi meminjam paksa.
14 Desember 2010
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
Minggu, 12 Desember 2010
WANITA dan BAJU KEBESARANNYA
Banyak yang luput dari pandangan saya, terutama pada hal – hal atau orang – orang yang sering berada disekitar saya. Yah,inilah mungkin kesalahannya memandang sesuatu yang sudah biasa, sehingga seolah-olah semuanya tanpa makna atau dengan kata lain minim rasanya. Begitu pula yang terjadi pada istri saya, yang harus menanggung pola kebiasaan saya yang salah tapi teranggap benar menurut versi saya.
Baru beberapa hari lalu saya mencoba menikmati setiap gerak-gerik istri saya. Bukannya selama ini tidak memperhatikannya. Tetapi itu semua sebagaimana saya bilang sebelumnya, seperti sedikit luput dari pandangan karena saking terbiasanya.
Ada salah satu hal yang cukup menarik perhatian saya mengenai istri saya. Yaitu mengenai busana sehari-hari yang dipakainya. Bukan niatan saya untuk tidak mengekpos mengenai modisnya bila ia berbusana dalam pakaian kerja atau pakaian pestanya. Sebab jika bicara soal pakaian kerja dan pestanya pastilah ia akan memakai yang terbaik dan terbagus menurut versinya.Itu semua dipakainya demi mendampingi saya atau demi menjaga eksistensinya sebagai wanita pekerja.
Tetapi disaat saya mengamati versi lain dari busana sehari-hari istri saya. Ada semacam rasa bertanya-tanya dalam hati saya, mungkin juga dibenak para bapak-bapak lainnya. Mengapa para wanita sangat suka sekali memakai pakaian santainya yang jamak disebut dengan Daster. Yaitu sebuah pakaian tak resmi yang biasanya adalah berupa panduan baju panjang, atau baju pendek lengkap dengan celananya dan lebih menariknya motif yang sering dipakainya adalah motif dengan gambar batik , bunga-bunga, boneka-boneka atau motif lainnya yang terkesan sangat simpel dan tanpa makna bagi saya.
Hingga suatu saat saya bertanya kepada istri saya dan mendapatkan sebuah jawaban yang sederhana. ‘ Biar tidak ribet dan panas’ begitu kata istri saya dengan singkat dan padatnya. Sejujurnya saat istri saya memberikan jawaban yang sesederhana itu ada yang tidak puas dalam hati saya. Tidak puas karena belum bertemu apa makna sebenarnya mengenai arti sebuah pakaian santai bagi para wanita ini.
Disaat saya bengong dan bertanya menggunakan logika saya inilah, rasa saya bergerak kedalam merasuk lebih dalam memandang eksistensi busana ini. Nah kebetulan pula saat itu istri saya sedang mengulek sambel kesukaan saya. Tiba-tiba diujung kamar saya si kecil menangis sejadi-jadinya karena kaget dan terbangun dari tidur paginya hanya karena bunyi terompet penjual sayur yang cukup nyaring bunyinya. Baru saja kaki saya mau melangkah, dengan kesigapan dan kecepatan ekstra istri saya sudah sampai dan menggendong anak saya, persis seperti film action yang semalam saya tonton bersamanya.
Rupanya inilah makna dari pembicaraan istri saya yang saya dengan sebelumnya tadi. Terbayang betapa jika istri saya harus menggunakan busana yang tidak lebih simpel dari dasternya. Betapa ribet, panas, sesak dan perasaan ketidakyamanan lainnya bila ia harus berformal-formal ria. Sementara harus mengurus semua urusan, termasuk urusan gelas yang sangat sulit sekali saya temukan bila tanpa bantuanya.
Saya menjadi paham betapa bau bawang bercampur keringat, atau bahkan bau pipis anak saya dan bau-bau lainnya yang menyeruak dari baju sederhana itu. Bagi saya adalah sebuah tanda mengenai perjuangan tangguh para wanita-wanita. Meskipun awalnyapun saya kurang menyukai jika istri saya memakai pakaian santainya itu. Tetapi begitu saya mendapatkan makna mengenai kekuatan, kecepatan dan ketepatan supernya setelah memakai pakaian sederhana itu. Saya menjadi tahu betapa para wanita dan dasternya adalah suatu panduan yang unik, bersahaja, tetapi dengan kekuatan yang luar biasa.
13 Desember 2010
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
Baru beberapa hari lalu saya mencoba menikmati setiap gerak-gerik istri saya. Bukannya selama ini tidak memperhatikannya. Tetapi itu semua sebagaimana saya bilang sebelumnya, seperti sedikit luput dari pandangan karena saking terbiasanya.
Ada salah satu hal yang cukup menarik perhatian saya mengenai istri saya. Yaitu mengenai busana sehari-hari yang dipakainya. Bukan niatan saya untuk tidak mengekpos mengenai modisnya bila ia berbusana dalam pakaian kerja atau pakaian pestanya. Sebab jika bicara soal pakaian kerja dan pestanya pastilah ia akan memakai yang terbaik dan terbagus menurut versinya.Itu semua dipakainya demi mendampingi saya atau demi menjaga eksistensinya sebagai wanita pekerja.
Tetapi disaat saya mengamati versi lain dari busana sehari-hari istri saya. Ada semacam rasa bertanya-tanya dalam hati saya, mungkin juga dibenak para bapak-bapak lainnya. Mengapa para wanita sangat suka sekali memakai pakaian santainya yang jamak disebut dengan Daster. Yaitu sebuah pakaian tak resmi yang biasanya adalah berupa panduan baju panjang, atau baju pendek lengkap dengan celananya dan lebih menariknya motif yang sering dipakainya adalah motif dengan gambar batik , bunga-bunga, boneka-boneka atau motif lainnya yang terkesan sangat simpel dan tanpa makna bagi saya.
Hingga suatu saat saya bertanya kepada istri saya dan mendapatkan sebuah jawaban yang sederhana. ‘ Biar tidak ribet dan panas’ begitu kata istri saya dengan singkat dan padatnya. Sejujurnya saat istri saya memberikan jawaban yang sesederhana itu ada yang tidak puas dalam hati saya. Tidak puas karena belum bertemu apa makna sebenarnya mengenai arti sebuah pakaian santai bagi para wanita ini.
Disaat saya bengong dan bertanya menggunakan logika saya inilah, rasa saya bergerak kedalam merasuk lebih dalam memandang eksistensi busana ini. Nah kebetulan pula saat itu istri saya sedang mengulek sambel kesukaan saya. Tiba-tiba diujung kamar saya si kecil menangis sejadi-jadinya karena kaget dan terbangun dari tidur paginya hanya karena bunyi terompet penjual sayur yang cukup nyaring bunyinya. Baru saja kaki saya mau melangkah, dengan kesigapan dan kecepatan ekstra istri saya sudah sampai dan menggendong anak saya, persis seperti film action yang semalam saya tonton bersamanya.
Rupanya inilah makna dari pembicaraan istri saya yang saya dengan sebelumnya tadi. Terbayang betapa jika istri saya harus menggunakan busana yang tidak lebih simpel dari dasternya. Betapa ribet, panas, sesak dan perasaan ketidakyamanan lainnya bila ia harus berformal-formal ria. Sementara harus mengurus semua urusan, termasuk urusan gelas yang sangat sulit sekali saya temukan bila tanpa bantuanya.
Saya menjadi paham betapa bau bawang bercampur keringat, atau bahkan bau pipis anak saya dan bau-bau lainnya yang menyeruak dari baju sederhana itu. Bagi saya adalah sebuah tanda mengenai perjuangan tangguh para wanita-wanita. Meskipun awalnyapun saya kurang menyukai jika istri saya memakai pakaian santainya itu. Tetapi begitu saya mendapatkan makna mengenai kekuatan, kecepatan dan ketepatan supernya setelah memakai pakaian sederhana itu. Saya menjadi tahu betapa para wanita dan dasternya adalah suatu panduan yang unik, bersahaja, tetapi dengan kekuatan yang luar biasa.
13 Desember 2010
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
Langganan:
Postingan (Atom)