Selasa, 14 Desember 2010

MAAF BERANTAI

Mata baru terbuka Karena mentari juga baru menunjukan wajahnya. Tetapi dalam pagi buta seorang ibu yang berlari-lari sekencangnya. Ia bukan sengaja berlari untuk tujuan olah raga seperti lazimnya. Apalagi demi kepentingan dan alasan mengenai bentuk badan dan ukuran standar lingkar pinggang yang mungkin didapatkan berdasarkan obrolan dengan ibu-ibu lainnya.
Sang ibu sedang mengejar buah hatinya. Buah hati yang sebenarnya diharapkannya menurut dan berlaku patuh padanya. Terlihatnya seperti si buah hati ini sedang mengerjai ibunya. Tetapi entah mengapa ada perasaan bahwa ada yang salah paham dari keduanya.
Karena sudah berputar dan berlari dua kali lengkap dengan kehebohannya. Timbul kekuatiran saya jika anjing peliharaan tetangga akan menimbulakn kegaduhan berikutnya dengan gonggongan besarnya. Setelah pas posisinya didepan saya lalu saya bertanya . ‘ Bu ada apa?’. Jawaban sederhana dengan nafas terengah saya terima ‘ anak saya ndak mau sekolah’.
Demi menyelamatkan kedamaian pagi ini saya pun bertindak layaknya pahlawan pagi buta. Disaat si anak lewat didepan saya , badannya saya tarik sekencangnya sehingga masuk halaman rumah saya. Saking kencang larinya, jadi sewaktu masuk dia menabrak tanaman kesayangan istri saya.Ya sudah lah ini masalah berikutnya, saya selesaikan dulu saja masalah utamanya.
Sambil membantunya berdiri saya berkata ‘ sudah sembunyi saja dulu dipojok sana’ sambil saya menunjuk pojok rumah saya. Sewaktu ibunya lewat kembali saya berkata ‘ Anaknya sudah masuk rumah bu, coba lihat dulu’. Tanpa dikomando si ibu dalam kecepatan lari super tinggi itu mengerem tubuhnya dengan sedemikian lihainya sambil memandang saya ‘ Oya, makasih ya pak, biar saya lihat dirumah’. Ibu ini tidak sadar bahwa saya tidak pernah berkata anaknya sudah masuk kerumahnya, tetapi masuk dirumah saya. Tetapi demi menjadi jagoan dadakan apapun saya tempuh demi misi sempurna.
Setelah sepi dari riuhnya aksi kejar tadi. Saya menghampiri si anak yang tengah sembunyi sambil bertanya ‘kamu kenapa lari?’.
Dengan tetap terengah si anak berkata ‘ Saya belum mengerjakan PR saya, saya takut pergi sekolah’.
Dalam acara jongkok bersama itu saya bertanya’ kamu takut pak guru atau bu guru?’. Sambil menggelengkan kepalanya ia berkata ’tidak, saya hanya takut jika dipermalukan didepan teman-teman lainnya, karena biasaya jika tidak mengerjakan PR disuruh berdiri didepan kelas’.

Dengan sedikit tehnik bicara sehingga meyakinkannya untuk menuruti saran saya. Akhirnya ia beranjak pergi dengan wajah ceria. Sewaktu saya berangkat kerja, terlihat di kejauhan si anak itu sedang bersepeda menuju sekolahnya.

Saat pulang kerja istri saya tiba-tiba cerita. ‘Ada kiriman kue dari tetangga ucapan pesanya terimakasih atas bantuannya’. Tanpa berkomentar soal kue yang dibicarakannya, saya lirik bunga yang sempat kena tubuh tambun si anak tetangga yang sudah rapi kembali. Saya hanya berkata ‘ maafkan saya sudah membuat tanaman itu berubah posisinya’. Istri saya tersenyum dan berkata ‘ tidak apa, karena kamu telah membuat aku bangga’.

Rupanya si anak bercerita mengenai kata-kata yang saya sarankan padanya. Bukan kata-kata mantra, apalagi jenis kata mutiara dan motivasi yang membara. Yang saya sarankan hanyalah ‘ Ucapkan maaf pada ibumu, dan mintakan ibumu menulis surat kepada gurumu untuk meminta maaf atas kelalaianmu belum mengerjakan PRmu, serta ucapkan janji pada dirimu untuk tidak mengulangi hal ini lagi’.

Bagi para sahabat guru, maafkan saya yang menyarankan sang anak untuk meminta maaf pada anda semua. Tetapi harga diri sang anak adalah segalanya. Lebih penting jujur dari pada membiarkannya berperang dengan hatinya demi menyelesaikan PRnya dengan berbagi cara, bahkan mungkin dengan mencontek apalagi meminjam paksa.

14 Desember 2010

Ruang Perenungan

Ardi Bangunjiwo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar