Rabu, 31 Desember 2008

Kontraksi 2008 dalam kemuliaan lahirnya 2009

"Lukislah masa depan anda dengan imajinasi, bukan dengan sejarah masa lalu." Steven R Covey

Kontraksi, itulah kata pertama yang tepat yang saya refleksikan dalam mengahiri tahun 2008.
Begitu ramah Tuhan menyapa saya pribadi dan keluarga saya. Disaat kondisi negara ini dalam keadaan dan berwarna abu-abu, Rangkaian-rangkaian berkah dan rejeki disepanjang tahun 2008 justru sangat dasyat saya rasakan. Bahkan menarik energi secara penuh untuk lebih mengaktifkan “otot” syukur lebih kuat.
Diawal permulaan tahun saja Tuhan sudah mengkontraksikan otot syukur saya dengan memperkenankan dan menitipkan amanah rejeki untuk berkarya di sebuah tempat yang memang sudah diharapkan, dimana harapan ini sudah terpendam dalam waktu yang panjang. Kontraksi-kontraksi yang lain tidak hanya berhenti disini, kelahiran putri kedua saya Althafunissa Aura Khansa bergabung bersama keluarga saya sebagai anggota baru, kesuksesan sang kakak Aufa Ihram dalam memasuki gerbang petamanya untuk mencari sumber ilmu juga merupakan pencapaian besar yang mewarnai mozaik 2008. Hadiah penutup dalam penghujung tahun yang lain yang tidak kalah besar adalah saat kedua orang tua saya dapat memenuhi panggilan ke Baitullah.
Sungguh kesadaran bahwa setiap tahun pasti memiliki awalan dan tahun-tahun tersebut tidak akan mampu kembali keawalnya lagi adalah sebuah keabsolutan yang dicipta Tuhan. Sehingga Air mata suka cita yang saat ini saya sampaikan sebagai rasa syukur hanya dapat menghantar awalan kelahiran tahun baru ini. Berharap tidak ada bibit-bibit kelemahan,keburukan dan ketidaklayakan lainnya yang sempat terbawa angin yang bernama kenangan yang akan membuat tahun-tahun baru ini menjadi tidak segar, bersih dan indah.
Ya Rab Hamba sadar sangat banyak nikmat yang telah engkau berikan kepada hamba bahkan nikmat yang tidak hamba minta engkau curahkan tanpa batas, sementara hamba hanya berika kealphaan dan dosa bahkan terkadang hamba menggunakan nikmat yang engkau berikan dalam jalan yang salah, sungguh ya Rab hamba malu dan ingin sekali bersembunyi, Namun apa daya hamba ya Rab dikesulitan-kesulitan hamba hanya engkau yang Maha Menyelesaikan, Hanya engkau yang Maha mendengar. Semoga engkau mendengar doa hamba ya Rab doa yang terucap atau yang tidak terucap.

Rabu, 17 Desember 2008

KAPAN NYAMAN DAN NIKMAT ITU?

Sering saya dengar atau bahkan saya lihat slogan-slogan dibeberapa perusahaan penyedia jasa khususnya yang berkaitan dengan tingkat kepuasan pelanggan, misalnya slogan dengan bunyi kami tawarkan servis dengan tingkat kenyamanan yang tinggi, Anda tinggal datang dan temukan kenikmatanya.
Ada yang menarik dari slogan-slogan tersebut. Menariknya adalah karena timbul pertanyaan apakah bila kita nyaman kemudian kita akan bisa mendapatkan kenikmatan? Adakah prasyarat atau suatu kondisi lain yang mempengaruhi hal ini ?
Pernahkan kita refleksikan dalam kehidupan sehari-hari kita contohnya bila kita akan keluar kota dengan jasa penerbangan. Apa saja faktor yg menyebabkan penerbangan kita terasa nyaman sehingga kenikmatan penerbangan dapat kita capai ?
Katakanlah faktor-faktor tersebut antara lain tempat duduk yang empuk sehingga kita merasa nyaman, pilot yang piawai dalam mengendalikan pesawat sehingga meminimalkan hentakan sehingga penerbangan terasa nyaman, Para awak kabin yang ramah dan “enak” dilihat sehingga kita merasa nyaman.
Dari beberapa faktor tersebut sekarang coba refleksikan faktor-faktor tersebut dengan jujur sesuai hati anda. Walaupun tempat duduk nyaman, pilot piawai, awak kabin ramah, apakah anda benar-benar nyaman dan menikmati penerbangan ? apakah anda diliputi rasa was-was ? apakah anda merasa mual ketika pesawat akan landing atau take off ?
Jika itu semua anda alami berarti anda tidak nyaman dong ? berarti anda jauh dari kenikmatan ? lalu apa yang sebenarnya membuat nyaman dan ujungnya kenikmatan?
Dalam buku Quantum Iklas dijelaskan bahwa kenikmatan hanya akan anda capai bila anda nyaman dan kenyamanan hanya akan anda raih jika ada rasa iklas dihati. Keiklasan akan membuat kita ringan, tenang dan nyaman karena kepasrahan pada sesuatu yang tertinggi, inilah puncak kenikmatan dari segala kenikmatan.
Kita akan nyaman dalam penerbangan dan akan menikmati dengan sepenuh hati seluruh perjalanan tanpa mengkhawatirkan hal-hal phisikis yang akan terjadi karena semua sudah kita ‘paketkan’ secara total kepada sang Maha Tinggi.
Anda tidak yakin ? Refleksikan prinsip iklas dalam hati anda sekarang dan rasakan kenyamanan untuk mencapai kenikmatan tertinggi

Senin, 29 September 2008

FAILURE IS TO BEGIN MORE INTELLEGENCY

Kegagalan adalah memulai sesuatu dengan lebih cerdas, kata-kata bijak yang saya kutip dari Hendry Ford tersebut terkesan sederhana namun memiliki makna dan implementasi yang sangat dalam.
Dalam kondisi saat ini yang memiliki probabilititas persaingan yang sangat padat bahkan cenderung ketat, sepertinya kata-kata tersebut sangat patut kita renungi atau jika perlu kita maknai sebagai implementasi sikap sehari-hari dalam berkegiatan, karena kegagalan adalah suatu “Universitas Kehidupan” yang memiliki investasi yang mahal, Jadi kalau tidak belajar darinya akan rugi besar.
Dari salah satu tulisan blog kibroto (http://kibroto.blogspot.com), saya tertarik dengan pembahasan beliau mengenai kegagalan. Menurut pandangan beliau paling tidak terdapat dua hal yang mempengaruhi pandangan mengenai kegagalan, yaitu Internal LoC dan External LoC. LoC (Locus of Control) adalah bagaimana seseorang mengartikan sebab musabab dari suatu peristiwa.
Adapun Internal LoC adalah adalah suatu pandangan bahwa seseorang merasa bertanggung jawab penuh terhadap suatu kegagalan yang terjadi contohnya Seorang pelamar misalnya, test kesana kemari hanya untuk berulang-ulang tidak lolos test. Ia bisa saja menyalahkan dirinya karena kekurangannya. Ia mungkin berpikir, ah saya sarjana payah, atau jawabanya selalu tidak diterima.
Sedangkan External LoC adalah suatu pandangan mengenai mereka yang seringkali menyalahkan (atau bersyukur) atas keberuntungan, petaka, nasib, keadaan dirinya, atau kekuatan2 lain diluar kekuasaannya Contoh, seorang alumni test dan nilainya jatuh. Karena pada saat test konsentrasinya buyar karena ibunya masuk UGD.
Terlepas dari kedua pandangan tersebut, Saya perlu merefleksi kembali konsep “ kawulo” atau kehambaan dari manusia sendiri. Dimana suatu kegagalan ataupun keberhasilan adalah suatu hasil dari suatu proses yang kita lalui terlepas dari persiapan yang kita lakukan untuk meminimalkan kegagalan tersebut.
Konsep “ Kawulo” dapat mendorong seseorang untuk berpasrah diri terhadap hasil suatu proses dan menjadi lebih produktif bahkan lebih kreatif dan cerdas dalam menyikapi hasil. Jika hasil yang diperoleh sesuai dengan harapan maka tidak menjadi pongah, sombong atau “gumede” kebalikannya jika hasil yang diperoleh gagal maka tidak terus terpuruk atau “ ngelokro”.
Konsep “ Kawulo” mengajarkan kita untuk dapat bersikap jangan merasa bisa, tetapi bisalah merasa (Ojo Rumongso Biso Ning Biso Rumongso), banyak hal berupa Internal LoC dan External LoC yang mempengaruhi hasil berproses kita.
Akhir dari tulisan ini tetap saya fokuskan pada refleksi“ kegagalan adalah memulai sesuatu dengan lebih cerdas” bukan “ kegagalan adalah akhir dari perjalanan”.

"dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir" (QS. Yusuf : 87)

Kamis, 07 Agustus 2008

FILSAFAT AYAKAN

Pernahkan anda berfikir mangenai filsafat ayakan ?
Pada prinsipnya mengayak dalam website wiktionary adalah satu kata kerja adalam bahasa sunda yang berarti memisahkan antara sesuatu kasar dan yang lembut. Adapun dan hasil dari pengayakan tersebut biasanya dapat diukur dan dinyatakan dalam system science dengan satuan mesh yang menyatakan tingkatkehalusan / kelembutan dari hasil ayakan itu sendiri .
Jika dulu saya diminta tolong ibunda saya tercinta untuk membantu membuat kue, biasanya ibunda saya akan meminta saya untuk mengayak tepung terigu tentunya dengan ukuran kehalusan tertentu yang nantinya akan dimasukan dalam telur yang telah dikocok, dan dengan tangannya yang terampil tersebut beliau menyulap pencampuran tepung halus hasil ayakan, telur dan berbagai bahan lain tersebut menjadi kue yang enak dan lezat.
Sama halnya pada saat saya di minta tolong oleh ayahanda saya membantu “ menambal” dinding rumah saya yang sempat lobang-lobang termakan usia. Ayahanda saya selalu meminta untuk mengayak pasir-pasir yang ada hingga pada tingkat kehalusan tertentu untuk menghasilkan tekstur dinding yang sama dengan dinding yang tidak berlobang tadi. Alhasil setelah pasir diayak dan mendapatkan kehalusan tertentu maka setelah dicampur bersama-sama semen alhasil dinding rumah kami kembali mulus dan tidak berlobang lagi
Tetapi pernahkah kita berfikir terbalik tentang konsep ayakan ini ? Terlepas dari Analogi tepung dan pasir ?
Pernahkan anda meyaksikan seorang mengayak pasir mungkin didaerah kalimatan atau papua. Mereka ternyata menerapkan konsep ini secara terbalik.
Pasir-pasir disuatu daerah dikumpulkan kemudian diayak…tapi bukan pasir halusnya yang diambil justru butiran kasar yang kadang pula berbetuk bongkahan-bongkahan kasar yang disebut emas atau intan yang justru nilainya dan satuannya lebih besar dari hasil halusnya yaitu pasir.
Apa yang salah dengan analogi ayakan diatas ya? Saya rasa tidak ada yang salah dari filsafat ayakan bahwa mengayak tetap memisahkan sesuatu yang kasar dan yang lembut. Tetapi terkadang hasil akhirnya menjadi berbeda jika kita pandai mencermati tujuan dari pengayakan tersebut.
Semoga kita tidak salah dalam menerapkan filsafat ayakan ini, dan jika tuhan mengijinkan semoga kita dapatkan hasil ayakan yang kasar tetapi benilai lebih dari yang halus.

AMBISI DALAM ORGANISASI KOI

Posting saya kali ini adalah bentuk dari sebuah hasil pemahaman dan pemikiran hasil dari sebuah kegiatan pelatihan yang dilaksanakan oleh perusahaan tempat saya bekerja.
Permulaan pemikiran yang mencoba memecah dan mengkorelasikan suatu pandangan dalam retorika klasikal pengetahuan manajemen dengan keseimbangan dalam alam yang terjadi.
Didalam sesi pelatihan tersebut guru kami mengajarkan suatu kebijakan pemikiran yang mengkondisikan penalaran ilmiah dengan memasukan unsur analogi alam sebagai jembatan perumpamaan perloncatan batas tegas korelasi ilmiah dan alamiah.
Dalam pengajaran tersebut guru kami mengungkapan sebuah hubungan alamiah suatu kehidupan kelompok ikan koi dalam suatu kolam dengan aspek konsep ambisi dan konsep kebersamaan dalam suatu organisasi.
Kehidupan ikan koi yang pada saat itu kami saksikan secara langsung dari kolam sebuah hotel dengan prestise tinggi dengan aliran air deras serta kumpulan pualam membuat kami tertegun. Tenangnya air dan terlihatnya ikan-ikan koi yang indah tersebut sangat membius kami dalam rasa damai dan kagum.
Ketertegunan kami dikagetkan dengan dilemparkannya segenggam pellet yang dimasukan dalam kolam tersebut, karena tiba-tiba ikan-ikan yang indah beberapa saat lalu seperti hilang. Ketenangan dan absraktifitas dari rasa hening yang beberapa saat lalu kami alami terganggu.
Pada saat itulah baru kami sadari bahwa ternyata kumpulan koi yang tenang bisa menjadi kumpulan abraksi yang kacau, rusuh bahkan semrawut hanya dengan segenggam pellet. Pengkacauan sebuah kondisi dari skelompok koi tersebut adalah refleksi betapa makluk dalam tataran kontepelasi ambisi dapat terkacaukan dengan bau, rasa mungkin juga warna terhadap benda yang masuk dalam lingkungannya.
Bagaimana dengan refleksi manusia??

AWAL SEBUAH PERJALANAN

Bagaikan mengawali sebuah perjalanan, saya mencoba sedikit demi sedikit belajar untuk menaratifkan segala sesuatu yang terjadi dalam langkah-langkah saya. Sebagaimana seorang bayi, saya kembali untuk mempelajari dan memahami suatu bentuk baru.
Berharap rumah ilustrasi saya ini menjadi refleksi bagi saya sendiri dan menjadi sebuah awal cerita dan berbagi terutama bagi rekan, saudara dan semua
Awal refreksi kecil yang diharapkan menjadi sekumpulan besar refleksi-refleksi lain dari bentuk pengalaman, cerita, deskripsi atau hanya sebatas abtraksi dari suatu rangkaian langkah-langkah dalam kehidupan.
Harapan yang tinggal adalah semoga adanya sebuah usaha yang istiqomah dalam menjaga refleksi ini tetap hidup dan berguna bagi saya sendiri khususnya