Senin, 21 Februari 2011

KISAH KIPAS ANGIN

Sebuah kisah inspiratif bagi para orang tua yang mungkin berfikir komplek dan banyak khawatir mengenai masa depan jika anak-anak tidak pandai dan menguasai ilmu tertentu.
Dikisahkan disebuah perusahaan sabun ternama yang tengah berkembang pesat terdapat suatu masalah dengan banyak hadirnya keluhan dari para pelanggannya. Sabun-sabun yang dijual dan diedarkan dibeberapa toko ternama ternyata banyak yang kosong tak berisi alias hanya bungkusnya saja.
Akhirnya sang pemimpin perusahaan sabun tersebut memutar otak dan mencari berbagai cara untuk menekan angka keluhan ini. Sejumlah konsultan dan tenaga ahli tehnis dari berbagai disiplin ilmu didatangkan untuk membuat suatu metode dan alat baru . Invetasi jutaan dollar dan sebuah peralatan besar yang dilengkapi dengan sinar x dan sinar infra merah dipasang pada titik akhir dimana kotak-kotak sabun ini akan dimasukan dalam kardus untuk kemudian dijual.
Namun setelah 6 bulan alat yang direkomendasikan para konsultan ini digunakan untuk bekerja timbulah suatu permasalahan yang baru, dimana alat tersebut menghabiskan energi listrik serta menimbulkan biaya yang produksi yang amat tinggi.
Sang pimpinan perusahaan kembali berfikir bagaimana agar produk sabun di pabriknya bisa terjamin terjual dalam kondisi baik dan terisi, tetapi biaya untuk pengecekannya rendah. Dalam kebingungannya tersebut datanglah seorang anak murid STM yang kebetulan sedang mengadakan Kerja Praktek menawarkan bantuan untuk memberikan solusi terhadap permasalahan perusahaan tersebut.
Awalnya sang pimpinan perusahaan ini ragu, namun melihat kesungguhan niat si anak tersebut, maka sang pimpinan perusahaan memberikan kepercayaan kepada anak ini.
Akhirnya sesuatu yang menarikpun terjadi, pertama-tama kali anak ini meminta sang pimpinan perusahaan untuk melepas semua alat yang dilengkapi dengan sinar X dan sinar infra merah itu kemudian menggantinya dengan sebuah kipas angin. Sang anak juga meminta sang pimpinan perusahaan memasang sebuah alat berupa “sabuk” yang dapat berjalan sehingga anak tersebut dapat meletakkan kotak-kotak sabun yang akan dijual tersebut pada “sabuk” berjalan tersebut lalu menyalakan kipas anginnya. Hasilnya kardus-kardus sabun yang tidak berisi sabun akan terlempar jatuh. SEDERHANA dan MURAH itu yang menjadi komentar sang pimpinan perusahaan.
Mulai saat itulah sang anak diangkat menjadi seorang manager Quality Control diperusahaan tersebut meskipun anak tersebut bahkan belum lulus STM.
Ayah-Bunda mulia, yang dibutuhkan anak-anak kita sebenarnya bukanlah sebuah persamaan matematis yang rumit, bukan pula sebuah analogi yang komplek lengkap dengan fungsi logaritma dan pangkat yang banyak. Yang mereka butuhkan sebenarnya adalah kesederhanaan ide, sebuah ketertarikan dan rasa penasaran sehingga memicu kreatifitas untuk dapat langsung diterapkan dalam kehidupan mereka kelak.

Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
21 February 2011