Jumat, 10 Desember 2010

KEHIDUPAN, KEMATIAN DAN KEABADIAN

Sebuah coretan yang terinspirasi oleh status salah satu sahabat di FB yaitu Bunda Asriana Kibtiyah
mengenai kehidupan, kematian dan keabadian. Mungkin sudah banyak yang sudah menulis mengenai hal ini, tetapi bagi saya tidak ada salahnya jika saya ingatkan kembali diri saya sendiri melalui status inspiratif dari sahabat saya ini

Betapa banyak kita sering merasa bahwa hidup kita bukanlah milik kita. Bahkan sudah terlalu banyak yang memesankan bahwa waktu dimana hak kita hidup itu akan ada waktu dan masa habisnya. Seperti halnya seorang ilmuwan yang mengetahui bahwa ciptaannya berupa sebuah batu baterai pasti akan berakhir masa berlakunya dalam mengalirkan energi listrik akibat sudah dicolok sana dan sini untuk dimanfaatkan dan dirubah energinya. Sebenarnya demikian juga manusia, yang beberapa kali merasa bahwa ia memahami dirinya.

Manusia sebenarnya menyadari bahwa energi listrik yang disebut hidup itu sudah banyak dipakainya dalam setiap kegiatan dan aktifitasnya. Mungkin dalam label pekerjaan, berolahraga, berfikir , merenung, istirahat dan lain-lainnya. Manusia menyadari sepenuhnya bahwa energi hidup yang dimilikinya pastilah lambat laun akan semakin berkurang.

Tetapi bukanlah manusia namanya jika ia tidak mencoba-coba, bahkan mencoba-coba untuk hal-hal yang dianggap tidak lumrah dan lebih lagi tidak genah (baca: jelas). Beberapa manusia yang jamak disebut manusia nyentrik sering mencoba kekuatan energi listrik kehidupannya dengan berlaku diluar kesadaran normal manusia biasa, misalnya dengan mendaki gunung yang tinggi yang jumlah udaranya saja terbatas, atau lebih ekstrim lagi dengan menceburkan diri kekolam renang yang didalam membayangkannya saja sudah membuat sesak dalam dada.

Terlepas si manusia ekstrim memperoleh keuntungan apa dari hal yang sudah dilakukannya dalam tingkatan keekstrimannya. Menurut saya ada yang jauh lebih luar biasa dan perlu waktu memahaminya. Manusia ini sebenarnya telah berhasil mengalami kematian dalam kehidupannya.
Betapa tidak setuju kita mengatakannya, tetapi memang begitulah senyatanya. Manusia ini berhasil mematikan rasa ketakutannya, rasa egoismenya dan rasa kekhawatiranya. Kemudian dalam kematiannya itu ia hidupkan keabadian mengenai rasa percaya dirinya, kecerdasan berfikir dan berhitung serta rasa pasrah sepenuhnya pada penciptaNYA.

Bagi saya inilah makna dari kehidupan dalam kematian untuk menuju keabadian. Betapa dalam kehidupan ini kita perlu sedikit menjadi manusia ekstrim yang perlu mengalami kematian dalam hal nafsu, egoisme, idelisme negatif, amarah dan hal-hal lainnya yang sekiranya tidak membangun diri kita. Kemudian setelah kita mengalami kematian dari semua rasa negatif tersebut kita masuki sebuah fase keabadian dimana tercipta ketenangan, keadilan, kebahagiaan dan hal-hal positif lainya?

Menulis tulisan ini menjadikan saya teringat satu kata bijak yang menjadi sebuah peninggalan berharga yang disampaikan oleh eyang saya dalam bahasa jawa yang bunyinya adalah “YEN SIRO AREP TUMUJU MARANG RAHAYU, SIRO KUDU BISO MATI SAK JERONING URIP” yang arti dalam bahas indonesianya kurang lebih (NAK APABILA KAMU INGIN MENUJU SEBUAH KEBAHAGIAAN HAKIKI, KAMU HARUS BISA MATI DIDALAM HIDUP)

Terimakasih sekali lagi untuk sahabat baru saya yang menginspirasi tulisan ini

10 Desember 2010

Ruang Perenungan

Ardi Bangunjiwo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar