Ada yang tak sempurna dari pikiran ini, ada yang tak sempurna dari sikap ini. Bahkan lebih sangat mungkin banyak ketidaksempurnaan dalam tulisan-tulisan ini.
Bicara mengenai ketidaksempurnaan seperti halnya membicarakan sebuah ruangan yang berisi hal-hal yang tabu bagi egoisme sang diri. Bayangkan hanya dengan menambahkan kata TIDAK dibagian depan kata SEMPURNA sebuah ketidaksempurnaan begitu banyak yang tak menyukai. Jangankan suka apalagi nge’fans sebagaimaan gaya bahasa saat ini, sebatas mendengar kalimat itu saja sang diri serasa diancam dengan sebuah eksekusi mati.
Perlawanan yang sengit hingga perjuangan yang sulit sering kali tampil sebagai tanda bahwa si” egoisme” menunjukkan ketidaksetujuannya. Namun hasil dari perlawanan dan perjuangan itu lebih seringkali berwujud berupa sikap juga sifat yang akhirnya semakin menunjukkan betapa tak sempurnanya diri.
Sebuah kesempurnaan memang sangatlah indah disaat ia menari-nari bagai sebuah mimpi. Tetapi begitu mimpi itu berubah menjadi buruk sekali. Kita jauh lebih sering berfokus pada mimpi buruk itu sendiri. Sehingga dibagian akhir dari mimpi itu seringkali bukan kesempurnaan yang kita temui tetapi justru seolah mendorong sang diri bertemu dengan ketidaksempurnaan kembali.
Salah satu hal yang lebih luar biasa dari ketidaksempurnaan itu adalah meskipun ia terasa pahit, walaupun bebannya terasa sangat berat, andaipun tampilannya terlihat sangatlah buruk. Tetap banyak sekali orang yang terus merasa tergurui, ternasehati atau tercerahkan oleh ketidaksempurnaannya sendiri. Hebatnya lagi ketidaksempurnaan ini seolah menjadi sebuah bahan bakar bagi sebagian orang untuk memacu dirinya untuk mengalahkan egoisme dirinya sendiri sehingga bergerak lebih maju.
Betapa berkat ketidaksempurnaan yang sering dialami, betapa akibat ketidaksempurnaan yang sering terjadi, justru membuat penguatan-penguatan serta kesempurnaan itu terjadi bahkan dengan sendirinya. Inilah mengapa banyak orang yang bercerita mengenai pengalaman kejaban-keajaiban saat dirinya seolah tersudut dengan ketidaksempurnaannya.
Seolah ketidaksempurnaan itu adalah sebuah kunci dimana hanya bisa dibuka dan dilengkapi jika kita mau sedikit menahan egoisme diri mengenai sebuah kesempurnaan dan membiarkan Tuhan menyempurnakannya.
Jadi jika kita saat ini masih mengalami, merasakan, menjalani sebuah ketidaksempurnaan. Saran saya adalah segeralah berbahagia untuknya dan rayakanlah kehadirannya. Karena disanalah Tangan Tuhan akan segera Menyapa.
Jakarta 21-04-11
Ruang Perenungan
Ardi Bangunjiwo
Kamis, 21 April 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar