Pernahkan anda berfikir mangenai filsafat ayakan ?
Pada prinsipnya mengayak dalam website wiktionary adalah satu kata kerja adalam bahasa sunda yang berarti memisahkan antara sesuatu kasar dan yang lembut. Adapun dan hasil dari pengayakan tersebut biasanya dapat diukur dan dinyatakan dalam system science dengan satuan mesh yang menyatakan tingkatkehalusan / kelembutan dari hasil ayakan itu sendiri .
Jika dulu saya diminta tolong ibunda saya tercinta untuk membantu membuat kue, biasanya ibunda saya akan meminta saya untuk mengayak tepung terigu tentunya dengan ukuran kehalusan tertentu yang nantinya akan dimasukan dalam telur yang telah dikocok, dan dengan tangannya yang terampil tersebut beliau menyulap pencampuran tepung halus hasil ayakan, telur dan berbagai bahan lain tersebut menjadi kue yang enak dan lezat.
Sama halnya pada saat saya di minta tolong oleh ayahanda saya membantu “ menambal” dinding rumah saya yang sempat lobang-lobang termakan usia. Ayahanda saya selalu meminta untuk mengayak pasir-pasir yang ada hingga pada tingkat kehalusan tertentu untuk menghasilkan tekstur dinding yang sama dengan dinding yang tidak berlobang tadi. Alhasil setelah pasir diayak dan mendapatkan kehalusan tertentu maka setelah dicampur bersama-sama semen alhasil dinding rumah kami kembali mulus dan tidak berlobang lagi
Tetapi pernahkah kita berfikir terbalik tentang konsep ayakan ini ? Terlepas dari Analogi tepung dan pasir ?
Pernahkan anda meyaksikan seorang mengayak pasir mungkin didaerah kalimatan atau papua. Mereka ternyata menerapkan konsep ini secara terbalik.
Pasir-pasir disuatu daerah dikumpulkan kemudian diayak…tapi bukan pasir halusnya yang diambil justru butiran kasar yang kadang pula berbetuk bongkahan-bongkahan kasar yang disebut emas atau intan yang justru nilainya dan satuannya lebih besar dari hasil halusnya yaitu pasir.
Apa yang salah dengan analogi ayakan diatas ya? Saya rasa tidak ada yang salah dari filsafat ayakan bahwa mengayak tetap memisahkan sesuatu yang kasar dan yang lembut. Tetapi terkadang hasil akhirnya menjadi berbeda jika kita pandai mencermati tujuan dari pengayakan tersebut.
Semoga kita tidak salah dalam menerapkan filsafat ayakan ini, dan jika tuhan mengijinkan semoga kita dapatkan hasil ayakan yang kasar tetapi benilai lebih dari yang halus.
Kamis, 07 Agustus 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
tidak mudah memahami sesuatu bila kita belum mengalaminya...
BalasHapusterkadang teori tak akan mampu diterapkan saat kita menghadapi kenyataan, yg sbenarnya sringkali kita telah memahaminya.. prinsip mana yg halus dan kasar.mana prinsip yg harus dipisahkan dalam hidup ini.
tak pernah "terjadi" dan terfikir apa yg kini ada, bingung, gelissah dan tak mampu mempraktekan semua teori yg pernah ada.
hanya satu pertanyaanya kenapa smua bisa terjadi?? tak masuk akal!
tapi toh tak mampu mengelak..tak mampu berkutik.
akhirnya tiba disatu titik PASRAH..
dan sejuta cacipun kutimpakan kediriku..HOW COME IT DOESn"t matter??
padahal jelas SALAH lalu 1 pertanyaan itu membuncah..
apa hanya aku yg mrasa???
amin.....
BalasHapussemoga berbahagia semua mahluk ya..